TOPMEDIA – Tidak banyak media asing yang memberitakan kabar ketika Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dibacakan oleh duo proklamator, Soekarno dan Mohammad Hatta.
Hal itu juga terjadi dan bahkan di tanah air sendiri kondisinya terbilang sepi. Namun, setahun setelah proklamasi, media paling berpengaruh di Amerika Serikat, New York Times, membuat laporan situasi yang terjadi.
Tercatat pada terbitan 13 Agustus 1946, media tersebut menurunkan laporan dengan judul besar “Konflik di Indonesia Menunjukkan Tren Meningkat.”
Kemudian dilanjutkan dengan subjudul “Aktivitas Militer di Jawa Meningkat Menjelang Peringatan Satu Tahun Republik.
Laporan dibuka melihat pada kondisi di Pulau Jawa yang menjadi episentrum kemerdekaan.
“Aktivitas militer Indonesia meningkat pesat di seluruh wilayah Jawa kecuali di sekitar Batavia menjelang peringatan satu tahun “deklarasi kemerdekaan” Indonesia,” kata seorang juru bicara militer Inggris hari ini.
Kemudian, hal itu ditambah dengan proklamasi yang tidak diakui oleh pihak Belanda serta gangguan dari Tentara Rakyat Indonesia.
Berikut laporan dari New York Times saat itu:
Republik yang tidak diakui itu diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Dalam tinjauan umum situasi yang tegang, juru bicara tersebut mengungkapkan bahwa dalam lima hari terakhir 200 warga Indonesia telah tewas di sekitar Semarang dan setidaknya tujuh puluh lima orang di sekitar Bandung. Ia mengatakan operasi Tentara Republik Indonesia di daerah-daerah tersebut tidak memberikan dampak militer yang serius tetapi merupakan “gangguan besar.” AsiaTenggara & Kepulauan Pasifik
Juru bicara saat itu menyebut Semarang sebagai “titik terpanas di Jawa.” Ia mengatakan lapangan terbang tersebut telah dihujani tembakan Indonesia sejak 4 Agustus.
Lalu lintas udara baru dilanjutkan pada hari Minggu. Aktivitas Indonesia, tambahnya, menurun setelah adanya operasi Sekutu yang menghancurkan beberapa posisi Indonesia di sekitar Semarang dalam beberapa hari terakhir.
Kemudian, juru bicara mengatakan bahwa di sekitar Surabaya, “Tentara Rakyat Indonesia,” yang ia gambarkan sebagai organisasi ekstremis, terus-menerus membuat posisi Belanda “siaga”. (ton)



















