TOPMEDIA, NEW JERSEY – Tim nasional Spanyol resmi mengukuhkan diri sebagai penguasa sepak bola dunia usai merengkuh trofi Piala Dunia 2026. Kepastian ini diraih setelah La Furia Roja menundukkan juara bertahan Argentina dengan skor tipis 1-0 pada laga final dramatis yang berlangsung di New Jersey, Amerika Serikat, Senin (20/7) dini hari WIB.
Kemenangan ini terasa semakin manis bagi skuad asuhan Luis de la Fuente. Tak hanya meraih trofi tertinggi, Spanyol juga sukses mengawinkan gelar Juara Eropa (Piala Eropa) dengan gelar Juara Dunia, menegaskan dominasi generasi emas baru mereka di panggung internasional.
Pertandingan berjalan sengit sejak peluit awal dibunyikan. Dominasi serangan Spanyol sempat menemui jalan buntu akibat penampilan gemilang penjaga gawang Argentina, Emiliano “Dibu” Martinez. Kiper Aston Villa tersebut tampil luar biasa dengan mencatatkan 10 kali penyelamatan krusial sepanjang 90 menit waktu normal.
Petaka bagi Argentina terjadi menjelang akhir babak kedua. Pada menit ke-90+3, Tim Tango harus bermain dengan 10 orang setelah Enzo Fernandez menerima kartu kuning kedua.
Keunggulan jumlah pemain akhirnya berhasil dimanfaatkan Spanyol pada babak tambahan waktu. Berawal dari skema serangan yang rapi, Ferran Torres sukses memecah kebuntuan lewat gol tunggalnya pada menit ke-106. Gol semata wayang ini sekaligus menyegel kemenangan dan membawa Spanyol kembali menjadi kampiun dunia.
Usai pertandingan, pelatih timnas Spanyol, Luis de la Fuente, tak bisa menyembunyikan rasa haru dan bangganya. Pelatih berusia 65 tahun tersebut mengapresiasi kerja keras skuad mudanya yang tampil konsisten hingga mengawinkan dua gelar bergengsi.
“Saya merasa sangat bangga dengan generasi pemain ini, yang telah tumbuh dengan ide permainan ini, membuatnya lebih baik, dan memberi kita contoh sebuah kelompok, sebuah keluarga,” ujar De la Fuente dikutip dari situs resmi FIFA.
De la Fuente juga mengakui bahwa laga final ini sejatinya bisa diselesaikan lebih cepat jika bukan karena ketangguhan kiper lawan.
“Saya pikir pertandingan seharusnya sudah ditentukan lebih awal. Penyelamatan hebat Dibu [Emiliano Martinez] mencegah kami menang lebih cepat, tetapi ini adalah final Piala Dunia dan, bahkan [bermain melawan] sepuluh pemain di akhir pertandingan, kami harus berjuang,” lanjutnya.
Pencapaian ini menyejajarkan generasi muda Spanyol saat ini dengan era keemasan mereka pada periode 2008–2012. Kombinasi bakat luar biasa, kolektivitas tim, dan ketenangan di momen krusial menjadi kunci sukses De la Fuente membawa trofi Piala Dunia kembali ke tanah Matador.
“Saya sangat emosional setelah melihat ke belakang. Kami telah memenangkan segalanya, dan itu luar biasa. Mereka adalah generasi pemain yang menjadi sumber kebanggaan bagi Spanyol. Bersama-sama, kita lebih kuat,” tutup De la Fuente dengan emosional. (*)



















