TOPMEDIA, JAKARTA – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) tengah menyempurnakan Buku Peta Jalan dan Agenda Riset Strategis Nasional.
Langkah progresif ini diambil dengan memastikan bahwa bidang pendidikan tidak lagi berjalan sendiri, melainkan diintegrasikan secara strategis sebagai fondasi utama riset nasional.
Komitmen ini dibahas secara mendalam dalam Focus Group Discussion (FGD) Reviu dan Validasi Peta Jalan Riset Bidang Pendidikan yang digelar di Gedung D Kemdiktisaintek, Jakarta, Jumat (15/5/2026)).
Forum ini menjadi wadah krusial untuk menyelaraskan arah riset akademis dengan kebutuhan nyata di lapangan.
Seperti diketahui, selama ini, peta jalan riset sering kali diidentikkan dengan pengembangan bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).
Namun, Dirjen Risbang Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, menegaskan bahwa pembangunan bangsa yang berkelanjutan membutuhkan pendekatan yang lebih holistik.
“Penyusunan peta jalan riset nasional tidak semata-mata berpusat pada bidang STEM, tetapi juga memberi ruang kuat bagi bidang sosial humaniora. Di sinilah pendidikan memegang peran kunci,” kata Fauzan dalam arahannya.
Fauzan menambahkan bahwa pendidikan ditempatkan sebagai pilar sosial humaniora yang vital guna membangun talenta nasional, memperkuat karakter, meningkatkan kualitas pembelajaran, serta menjawab tantangan sosial dalam kerangka pembangunan.
Selain pendidikan, bidang lain seperti ekonomi dan bisnis, hukum, hingga ketahanan bencana, lingkungan, dan infrastruktur juga terus diperkuat.
Tiga Fokus Utama Riset Pendidikan
Tim penyusun bidang pendidikan yang dipimpin oleh Prof. Markus Diantoro, perwakilan dari Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Negeri Indonesia (ALPTKI), telah merumuskan tiga fokus utama dalam peta jalan riset pendidikan, yaitu:
- Kesiapan Pendidikan Dasar dan Menengah dengan sasaran mempersiapkan lulusan sekolah dasar dan menengah agar siap melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi dengan fondasi akademik yang kuat.
- Adaptabilitas Pendidikan Tinggi dengan sasaran memastikan lulusan perguruan tinggi adaptif terhadap perkembangan sains, teknologi, serta dinamisnya kebutuhan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI).
- Penguatan Pendidikan Nonformal dengan sasaran memperluas akses, pengakuan, dan kesetaraan bagi lulusan nonformal agar memiliki hak yang sama untuk melanjutkan studi maupun bekerja.
Prof. Markus menekankan bahwa keberhasilan teknologi, industri, dan produk inovatif di masa depan pada akhirnya sangat bergantung pada kualitas manusia yang mengoperasikannya.
“Kalau kita bicara bidang-bidang strategis, pada dasarnya yang harus kita bangun adalah manusianya. SDM kita harus siap, adaptif, serta mampu mengikuti bahkan mendahului perubahan. Karena itu, pendidikan harus berjalan beriringan dan menjadi landasan menuju Indonesia 2045,” tegas Prof. Markus.
FGD ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan lintas sektor, mulai dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen), Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur dan DKI Jakarta, asosiasi kepala sekolah, hingga perwakilan industri seperti PT Pindad.
Sejumlah poin penting dan kritis berhasil dihimpun dari jalannya diskusi untuk menyempurnakan agenda riset ini. Antara lain penguatan kualitas tenaga pendidik serta pemerataan distribusinya di berbagai daerah; peningkatan kemampuan dasar literasi dan numerasi peserta didik sejak usia dini (PAUD); penyusunan riset yang lebih peka terhadap kondisi riil di daerah, pesantren, sekolah swasta, serta daerah tertinggal; pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (AI) dalam pendidikan, dengan fokus pada aspek etika, integritas akademik, dampak penggunaan gawai, serta perlindungan anak di dunia maya; serta pemetaan kompetensi nyata yang dibutuhkan industri dan penguatan karakter (soft skills) lulusan.
Menuju Kebijakan Berbasis Riset
Melalui penyempurnaan Buku Peta Jalan ini, Kemdiktisaintek berharap dapat melahirkan kebijakan pendidikan yang lebih relevan dan berbasis pada data riset yang kuat (research-based policy).
Kolaborasi erat antara perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia industri diharapkan tidak hanya menjadi jargon, melainkan sebuah ekosistem nyata.
Dengan riset pendidikan yang terarah, Indonesia optimis mampu mencetak talenta unggul yang siap membawa bangsa menjadi pemain utama di panggung global pada tahun 2045. (*)



















