TOPMEDIA, SURABAYA – Awan mendung menyelimuti langit Biak. Tim kebanggaan warga Papua, PSBS Biak, kini berada di ujung tanduk.
Berstatus sebagai jawara Liga 2 musim 2023/2024, tim berjuluk Badai Pasifik itu terancam hanya numpang lewat di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Laga melawan Persebaya Surabaya di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Sabtu (2/5) sore ini, bukan sekadar laga biasa.
Bagi PSBS, ini adalah laga hidup-mati. Kalah berarti kiamat; mereka harus mengepak koper lebih awal untuk kembali ke kompetisi kasta kedua musim depan.
Musim 2025/2026 yang sejatinya menjadi panggung pembuktian bagi PSBS, justru berubah menjadi mimpi buruk.
Tim yang dikenal tangguh saat promosi ini justru membawa rapor merah yang sangat memprihatinkan saat menginjakkan kaki di Surabaya.
Bayangkan saja, skuad asuhan Marian Mihail ini datang dengan catatan 13 pertandingan beruntun tanpa kemenangan.
Terakhir kali mereka berpesta adalah pada 12 Januari 2026, saat melumat Bhayangkara FC 4-1. Setelah itu? Gelap gulita.
Dalam 13 laga terakhir, mereka hanya mampu meraup 2 poin dari hasil 2 kali imbang dengan produktivitas gol hanya 8 namun kebobolan 35 kali.
Akibatnya, mereka kini hanya menduduki posisi juru kunci di peringkat 18 dengan hanya meraup 18 poin.
Matematika kompetisi tidak berpihak pada mereka. Saat ini, PSBS Biak terpaut 11 poin dari Madura United yang menghuni posisi ke-15 (batas aman zona degradasi). Dengan sisa hanya 4 pertandingan, margin poin tersebut sangatlah lebar.
Skenarionya sangat kejam. Jika PSBS takluk dari Bajul Ijo sore ini, maka mereka secara matematis resmi terdegradasi.
Pasalnya, jika kalah, poin maksimal yang bisa diraih PSBS di tiga laga sisa hanya 27 poin. Jumlah itu tidak akan cukup untuk mengejar Madura United. Maka, Stadion GBT bisa menjadi saksi bisu runtuhnya ambisi Badai Pasifik untuk bertahan di kasta elit.
Meski berada di posisi sulit, PSBS Biak tidak mau menyerah begitu saja di hadapan Bonek Mania. Mereka mengusung misi tampil habis-habisan demi harga diri. Jika pun harus turun kasta, mereka ingin memberikan perlawanan terbaik sebagai “kenang-kenangan” terakhir bagi publik sepak bola nasional.
“Situasi ini memang sulit, tapi semangat tanding anak-anak tidak boleh padam. Kami akan berikan segalanya melawan Persebaya,” ujar sumber internal tim.
Di sisi lain, Persebaya tentu tidak akan memberi ampun. Bermain di kandang sendiri, tim asuhan Bernardo Tavares itu diprediksi bakal tampil menekan sejak menit awal untuk mengunci poin penuh.
Bagi Persebaya, laga ini adalah kesempatan emas menambah poin. Namun bagi PSBS, ini adalah tembok terakhir yang harus mereka pertahankan agar tidak runtuh ke jurang degradasi. (*)



















