TOPMEDIA – Belakangan bahan baku plastik mengalami kelangkaan. Hal itu tidak terlepas dari terganggunya pasokan nafta, komponen utama dalam industri petrokimia. Kondisi ini memicu kenaikan harga plastik di Tanah Air.
Diawali dari gangguan konflik global, terutama di Timur Tengah, yang selama ini menjadi pemasok utama bahan tersebut. Dampaknya mulai terasa di dalam negeri, seketika harga plastik melonjak tajam di berbagai daerah.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap impor nafta cukup tinggi, sehingga disaat pasokan bermasalah dampaknya langsung menjalar ke industri.
“Jadi ini bagian dari dampak dari perang ya. Kita itu bahan baku plastik salah satunya adalah nafta. Nafta itu 60 persen kita impor dari Timur Tengah. Jadi kita terdampak dari bahan baku yang harus kita impor dari Timur Tengah,” ujarnya dalam konferensi pers di Kantor Staf Presiden, Jakarta Pusat, Rabu (1/4/2026).
Harga plastik yang melambung tinggi juga terjadi di tingkat pedagang. Di sejumlah pasar misalnya, harga plastik kantong naik dari sekitar Rp15 ribu menjadi Rp23 ribu per pak.
Sedotan plastik ikut naik dari Rp8.000 menjadi Rp10 ribu, sementara plastik kemasan bahkan melonjak dari Rp36 ribu menjadi Rp60 ribu.
Di beberapa kasus, para pelaku usaha mengatakan bahwa kenaikan harga bahan plastik mencapai 30 persen bahkan tembus ke 60 persen, hingga harga naik dua kali lipat karena keterbatasan stok.
Hal ini secara otomatis membuat biaya produksi berbagai sektor ikut terdorong naik, terutama industri makanan dan minuman yang sangat bergantung pada kemasan plastik.
Mengatasi hal itu, Pemerintah mencari alternatif pasokan dari negara lain untuk menjaga produksi tetap berjalan, sekaligus menahan gejolak harga di pasar.
Mengenal Apa Itu Nafta ?
Nafta adalah cairan hasil olahan minyak bumi yang menjadi bahan dasar untuk banyak produk, terutama plastik.
Nafta dihasilkan dari proses penyulingan minyak mentah, kemudian diolah lagi menjadi bahan kimia penting yang dipakai industri.
Dalam dunia industri, nafta terbilang sebagai bahan awal yang sangat krusial. Dari nafta selanjutnya dihasilkan zat seperti etilena dan propilena, yang kemudian diolah lagi menjadi plastik, karet sintetis, hingga berbagai produk kimia lainnya yang digunakan sehari-hari.
Secara sederhana nafta seperti bahan utama di dapur industri. Tanpa nafta, pabrik tidak bisa memproduksi bahan kimia yang menjadi dasar plastik.
Oleh karena itu, ketika pasokan nafta terganggu, efeknya dapat merembet luas. Tak hanya industri besar, tapi juga usaha kecil seperti pedagang makanan dan minuman yang menggunakan plastik untuk kemasan.
Selain untuk plastik, nafta juga kerap digunakan sebagai bahan campuran bensin, pelarut untuk cat dan tinta, hingga bahan baku berbagai produk industri lainnya.
Nafta memiliki sifat yang membuatnya cocok digunakan di banyak industri. Cairan nafta mudah menguap, mudah terbakar, dan memiliki bau khas seperti bensin. Secara kimia, nafta terdiri dari campuran hidrokarbon dengan jumlah atom karbon sekitar lima sampai 12.
Nafta memiliki titik didih yang bervariasi, mulai dari sekitar 30 hingga 200 derajat Celsius, tergantung jenisnya.
Sifat-sifat ini membuat nafta begitu fleksibel digunakan untuk berbagai kebutuhan industri, mulai dari bahan bakar hingga bahan kimia.
Selanjutnya, nafta dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan karakteristiknya. Nafta ringan biasa digunakan sebagai bahan baku petrokimia seperti plastik dan bahan bakar. Sementara itu, nafta berat lebih banyak dipakai untuk pelumas, aspal, atau bahan industri lainnya.
Ada pula nafta aromatik yang digunakan untuk pelarut industri, cat, hingga bahan kimia tertentu. Masing-masing jenis dari Nafta memiliki fungsi berbeda-beda, namun semuanya tetap berawal dari bahan yang sama, yaitu minyak bumi.
Kelangkaan nafta terjadi karena pasokannya bergantung pada impor, terutama dari kawasan Timur Tengah. Saat terjadi konflik, gangguan distribusi di wilayah tersebut, pasokan global langsung terganggu.
Bukan hanya Indonesia yang mengalami hambatan itu. Di sejumlah negara lain juga mengalami kondisi serupa.
Beberapa produsen kini bahkan terpaksa mengurangi produksi, yang akhirnya membuat pasokan semakin terbatas di pasar global. Akibatnya, harga bahan baku naik dan berdampak ke berbagai sektor. (*)



















