TOPMEDIA, JAKARTA – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengonfirmasi telah dimulainya langkah diversifikasi sumber energi dengan mendatangkan minyak mentah (crude oil) dari Amerika Serikat.
Langkah ini diambil sebagai strategi memperkuat ketahanan stok nasional di tengah dinamika geopolitik global yang masih fluktuatif.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa kerja sama pengadaan energi dengan Negeri Paman Sam tersebut saat ini baru terbatas pada komoditas minyak mentah, bukan produk jadi seperti Bahan Bakar Minyak (BBM).
“Amerika sudah mulai berjalan, sudah mulai. BBM tidak, BBM kita tidak ambil dari sana, minyak mentah, crude-nya,” ujar Bahlil saat memberikan keterangan di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Sabtu (11/4/2026).
Keputusan untuk memperluas jangkauan impor ini disebut sebagai upaya mitigasi risiko terhadap rantai pasok energi dunia. Menurut Bahlil, kondisi stok energi nasional saat ini berada dalam posisi yang relatif aman. Cadangan bensin nasional tercatat berada di atas batas minimal, yakni mampu mencukupi kebutuhan untuk lebih dari 20 hari.
Sementara itu, untuk stok gas minyak cair atau Liquefied Petroleum Gas (LPG), cadangan nasional diklaim bertahan untuk pemakaian di atas 10 hari.
“Saya ingin menyampaikan bahwa masa kritis kita terhadap dinamika global untuk BBM, alhamdulillah sudah kita lewati. Namun, saya meminta kepada seluruh masyarakat untuk tetap bijak dan arif dalam memakai BBM serta LPG,” tambahnya.
Meski saat ini fokus pada minyak mentah, Indonesia diprediksi akan meningkatkan serapan gas dari Amerika Serikat dalam waktu dekat. Hal ini menyusul terbitnya dokumen Agreement on Reciprocal Trade (ART) oleh Gedung Putih pada 19 Februari 2026 lalu.
Dalam perjanjian perdagangan timbal balik tersebut, Indonesia berkomitmen untuk mendukung dan memfasilitasi pembelian LPG senilai 3,5 miliar dollar AS atau setara dengan Rp59,13 triliun (kurs Rp16.894 per dollar AS).
Langkah ini dipandang oleh para pengamat sebagai bagian dari reposisi diplomasi ekonomi Indonesia untuk menyeimbangkan neraca perdagangan sekaligus menjamin kepastian pasokan energi jangka panjang.
Dengan ketergantungan terhadap impor LPG yang masih tinggi, kerja sama strategis dengan produsen besar seperti Amerika Serikat diharapkan mampu menekan risiko kelangkaan di tingkat domestik. (ton/top)



















