Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
ECONOMY & FINANCE

Harga Plastik Kemasan Melonjak, Disperindag Jatim Dorong Kemasan Alternatif

×

Harga Plastik Kemasan Melonjak, Disperindag Jatim Dorong Kemasan Alternatif

Sebarkan artikel ini
Lonjakan harga plastik di Jawa Timur berdampak pada IKM/UKM, penggunaan kemasan alternatif disarankan untuk menjaga stabilitas usaha. (Foto: Istimewa)
toplegal

TOPMEDIA – Lonjakan harga plastik kemasan di Jawa Timur (Jatim) semakin terasa dan mulai menekan pelaku usaha, terutama sektor industri kecil dan menengah (IKM/UKM).

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim mencatat kenaikan harga dipicu oleh mahalnya bahan baku biji plastik serta gangguan pasokan global.

HALAL BERKAH

Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Disperindag Jatim, Erivina Lucky Kristian, menjelaskan bahwa harga biji plastik kini mencapai Rp 30 ribu per kilogram, naik hingga 50 persen dari harga sebelumnya.

“Kenaikan ini tidak lepas dari lonjakan harga minyak mentah Brent sebagai bahan dasar. Dari sebelumnya sekitar USD 67 per barel, kini sudah di atas USD 98 per barel, bahkan sempat menyentuh USD 115 per barel,” ujarnya dikutip dari Radar Surabaya, Kamis (9/4/2026).

Baca Juga:  Optimisme di Tengah Ketidakpastian Global, Jawa Timur Pasang Target Investasi Rp 147,7 Triliun di 2026

Selain biji plastik, bahan utama plastik kemasan seperti polipropilena (PP) juga naik sekitar 24 persen.
Akibatnya, harga plastik di tingkat pedagang Surabaya melonjak antara 30 hingga 70 persen, tergantung jenis dan bahan baku.

Beberapa jenis plastik bahkan mulai sulit ditemukan, termasuk plastik PP, HD, dan PE yang digunakan untuk gelas cup, lid, tas kresek, hingga plastik kemasan berbagai ukuran.

Data Geographical Industry Information System (GIIS) mencatat terdapat 427 industri plastik di Jawa Timur, dengan 298 unit merupakan IKM/UKM dan 129 unit industri besar.

Namun, ketergantungan terhadap impor bahan baku masih tinggi, mencapai 50–60 persen. Nilai impor plastik dan produk turunannya di Jawa Timur pada 2025 mencapai USD 1,43 miliar, sementara ekspornya hanya USD 317 juta.

Baca Juga:  Jawa Timur Ubah Sampah Jadi Energi, Khofifah Teken Kerja Sama PSEL Surabaya dan Malang Raya

Lucky menegaskan bahwa pemerintah mendorong pelaku usaha mencari sumber bahan baku dari negara di luar kawasan konflik.

“Koordinasi juga dilakukan dengan asosiasi seperti APINDO, KADIN, dan INAPLAS agar pelaku industri bisa melakukan efisiensi biaya produksi tanpa membebani konsumen akhir,” jelasnya.

Selain itu, Disperindag Jatim mengimbau IKM/UKM untuk mulai beralih ke kemasan ramah lingkungan seperti karton, bambu, daun pisang, maupun tas kain.

Edukasi kepada masyarakat juga digencarkan agar mengurangi penggunaan tas kresek dalam aktivitas belanja.

“Kami berharap seluruh pihak bisa beradaptasi dengan kondisi ini, sehingga dampaknya terhadap pelaku usaha, khususnya IKM/UKM, bisa diminimalkan,” pungkas Lucky. (*)

TEMANISHA.COM