TOPMEDIA – Lonjakan harga plastik di pasar domestik mulai dirasakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di berbagai daerah. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya biaya bahan baku akibat gangguan pasokan global, termasuk dampak konflik di Timur Tengah yang memengaruhi distribusi minyak dan turunannya.
Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menyampaikan bahwa pemerintah tengah membahas langkah mitigasi agar pelaku UMKM tidak semakin terbebani.
“Sudah ada aspirasi yang masuk. Kebutuhan plastik untuk bungkus produk memang naik, tapi kami akan siapkan mitigasinya,” ujar Maman.
Harga plastik di dalam negeri dilaporkan melonjak antara 30 hingga 80 persen dalam beberapa pekan terakhir.
Gejolak ini terjadi akibat terganggunya pasokan nafta, bahan baku utama plastik yang merupakan turunan minyak bumi. Selain itu, lonjakan harga minyak global turut memperparah kondisi pasar.
Maman menjelaskan bahwa kenaikan harga plastik berdampak langsung pada biaya produksi pelaku UMKM, terutama yang bergantung pada kemasan plastik untuk produk makanan, minuman, dan kebutuhan rumah tangga.
“Kami memahami bahwa kenaikan ini menekan margin pelaku usaha kecil. Karena itu, kami akan berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan untuk menentukan langkah yang paling tepat,” tambahnya.
Ketergantungan terhadap pasokan bahan baku impor membuat harga plastik di Indonesia rentan terhadap gejolak global.
Anggota Komisi VI DPR RI, Firnando Ganinduto, mendesak pemerintah untuk segera melakukan intervensi pasar dan memperkuat industri dalam negeri.
“Pemerintah perlu segera melakukan stabilisasi melalui pengawasan distribusi bahan baku serta penguatan industri petrokimia nasional agar ketergantungan terhadap pasokan global bisa dikurangi,” ujarnya. (*)

















