TOPMEDIA – Banyak orangtua sering kali tidak menyadari bahwa sikap sederhana dalam keseharian ternyata memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter anak. Cara berbicara, memberi respons, hingga menegur saat anak melakukan kesalahan akan tersimpan dalam ingatan mereka dan perlahan menjadi bagian dari pola pikir serta perilaku sehari-hari.
Anak bukan hanya meniru apa yang dilihat, tetapi juga belajar dari pengalaman emosional yang mereka rasakan di rumah. Karena itu, pola asuh yang kurang tepat, terutama pada usia dini, dapat berdampak pada perkembangan kepribadian anak di masa depan.
Agar hal tersebut tidak terjadi, orangtua perlu lebih peka terhadap kebiasaan kecil yang mungkin tanpa sengaja justru menanamkan sifat kurang baik pada si kecil. Berikut beberapa perilaku yang perlu diperhatikan.
1. Terlalu banyak bicara saat anak sedang emosional
Ketika anak menangis, panik, atau merasa frustrasi, banyak orangtua justru langsung memberikan nasihat panjang atau mengulang kesalahan anak berkali-kali. Misalnya saat anak kehilangan sepatu setelah berkunjung ke rumah saudara, orangtua sering tanpa sadar terus mengungkit keteledoran anak pada saat itu.
Padahal, saat emosi anak sedang memuncak, kemampuan otaknya untuk memproses nasihat belum bekerja secara optimal. Dalam kondisi seperti ini, terlalu banyak kata justru bisa membuat anak semakin tertekan dan stres.
Cara yang lebih efektif adalah mendekati anak dengan tenang, menurunkan nada suara, lalu membantu mencari solusi bersama. Sikap ini membuat anak merasa aman sekaligus belajar mengenali emosinya.
2. Langsung menegur tanpa memahami perasaan anak
Saat anak pulang bermain lalu tiba-tiba membentak atau menunjukkan sikap kurang menyenangkan, respons spontan orangtua biasanya langsung memarahi atau memberi hukuman.
Padahal, bisa saja anak sedang kelelahan, kecewa, atau mengalami tekanan tertentu. Anak yang sedang tidak stabil secara emosional sebenarnya lebih membutuhkan empati terlebih dahulu sebelum diberikan koreksi.
Cobalah mulai dengan memahami kondisinya, misalnya dengan mengatakan, “Hari ini capek ya?” Setelah anak merasa dipahami dan lebih tenang, barulah orangtua bisa mengajarkan cara berbicara yang lebih baik.
3. Menghentikan aktivitas anak secara mendadak
Meminta anak berhenti bermain secara tiba-tiba sering menjadi pemicu pertengkaran di rumah. Tak jarang anak langsung menangis atau menolak karena merasa aktivitas yang sedang dinikmati diputus secara mendadak.
Bagi anak, perubahan aktivitas tanpa persiapan bisa membuat mereka merasa kehilangan kendali. Hal ini memicu stres dan emosi yang lebih besar.
Solusinya, berikan pemberitahuan lebih dulu sebelum waktu bermain selesai. Misalnya, beri tahu lima atau sepuluh menit sebelumnya agar anak memiliki waktu untuk bersiap. Memberi pilihan sederhana juga dapat membantu anak merasa lebih tenang.
4. Mengulang perintah berkali-kali
Kebiasaan mengulang instruksi terus-menerus, apalagi dengan nada yang semakin tinggi, sering dilakukan banyak orangtua di rumah.
Tanpa sadar, pola ini justru mengajarkan anak untuk tidak langsung merespons saat pertama kali diminta. Anak akan terbiasa menunggu sampai orangtua marah atau membentak baru kemudian bergerak.
Sebagai gantinya, sampaikan instruksi dengan jelas, lakukan kontak mata, dan ucapkan dengan tegas namun tetap tenang. Setelah itu, beri anak waktu untuk memproses dan menjalankannya.
5. Menuntut anak mampu mengontrol emosi seperti orang dewasa
Sering kali orangtua mengatakan, “Kamu sudah besar, jangan begitu,” saat anak terlalu senang, marah, atau kecewa berlebihan.
Padahal, kemampuan mengelola emosi adalah proses yang berkembang seiring bertambahnya usia. Anak belum sepenuhnya mampu memahami dan mengendalikan perasaannya dengan baik.
Alih-alih memarahi, orangtua sebaiknya membantu anak mengenali emosinya dan memberi contoh bagaimana cara mengekspresikannya dengan tepat.
Pada akhirnya, kebiasaan kecil orangtua di rumah sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Memberikan contoh yang baik, respons yang penuh empati, dan komunikasi yang tepat akan membantu anak tumbuh dengan karakter yang positif. (*)



















