TOPMEDIA – Kabar penting bagi jutaan penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menyongsong Lebaran atau Hari Raya Idulfitri 1447 H, Badan Gizi Nasional (BGN) memutuskan untuk menghentikan sementara operasional penyaluran MBG. Dari penghentian sementara ini, kas negara berpotensi menghemat hingga triliunan rupiah.
Kepala BGN, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa penyesuaian jadwal ini mengikuti kalender libur nasional dan cuti bersama.
Untuk kategori anak sekolah, distribusi makanan bergizi telah berakhir pada Jumat (13/3) lalu. Sementara itu bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui dan anak balita, penyaluran terakhir dilakukan pada Selasa (17/3/2026) hari ini.
“Setelah ini kita akan merayakan Idulfitri. Program Makan Bergizi akan kembali operasional pada 31 Maret mendatang,” ujar Dadan di Jakarta, Selasa (17/3/2026).
Dadan mengungkapkan, jeda distribusi ini memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi anggaran negara. Tidak tanggung-tanggung, angka penghematannya cukup fantastis.
“Tentu saja ada dampak efisiensi. Kurang lebih sekitar Rp 5 triliun yang bisa dihemat dengan skema (libur) seperti itu,” ungkap Dadan.
Sebagai informasi, BGN saat ini mengelola pagu anggaran jumbo sebesar Rp 268 triliun dengan dana cadangan (standby) mencapai Rp 67 triliun.
Dengan skala anggaran sebesar itu, Dadan menekankan pentingnya strategi penggunaan dana yang efektif dan akuntabel agar tidak terjadi penyalahgunaan.
Tak hanya soal jadwal libur, BGN juga tengah memperketat kualitas makanan.
Dadan membeberkan bahwa pihaknya telah melakukan tindakan tegas terhadap mitra pelaksana yang nakal.
Tercatat sebanyak 62 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia terpaksa ditutup sementara selama bulan Ramadan ini. Penyebabnya? Mereka kedapatan menyajikan menu yang tidak memenuhi standar gizi yang telah ditetapkan pemerintah.
“Minimal ada 62 SPPG yang kami tutup sementara karena tidak sesuai dalam memberikan menu. Ada yang menunya terlalu minimalis, ada juga yang kualitasnya kurang baik. Ini bagian dari pembinaan,” tegasnya.
Mengingat besarnya aliran dana yang mengucur hingga ke pelosok daerah melalui puluhan ribu SPPG, BGN memperketat pengawasan lintas sektoral.
Tak main-main, lembaga ini menggandeng Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) hingga Kejaksaan untuk memelototi setiap rupiah yang keluar.
“Kita lebih ke arah preventif. Seluruh mitra harus bekerja seoptimal dan secermat mungkin karena sekarang sudah diawasi bersama, baik oleh internal BGN, masyarakat, BPKP, hingga Kejaksaan,” tambah Dadan.
Evaluasi total akan terus dilakukan selama masa jeda Lebaran. Harapannya, saat program kembali bergulir pada 31 Maret nanti, kualitas menu semakin terjaga dan distribusi semakin tepat sasaran bagi para generasi emas Indonesia. (*)



















