Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
ECONOMY & FINANCE

Kawasan Ekonomi Khusus Mampu Serap 88 Ribu Tenaga Kerja

×

Kawasan Ekonomi Khusus Mampu Serap 88 Ribu Tenaga Kerja

Sebarkan artikel ini
KEK Sanur, salah satu dari 25 KEK yang ada di Indonesia. (Foto: Istimewa)
toplegal

TOPMEDIA – Sepanjang 2025, realisasi investasi di 25 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) tercatat mencapai Rp 82,6 triliun atau sekitar 98 persen dari target yang ditetapkan pemerintah. Angka ini sekaligus menyerap tenaga kerja sebanyak 88.541 orang di berbagai daerah.

Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, Rizal Edwin Manansang, menegaskan capaian tersebut menunjukkan peran KEK sebagai instrumen penting dalam mendorong investasi dan penciptaan lapangan kerja.

HALAL BERKAH

“Capaian ini menunjukkan KEK terus berkembang sebagai salah satu instrumen penting dalam mendorong investasi dan penciptaan lapangan kerja di berbagai daerah,” ujarnya di Jakarta, Minggu (15/3/2026).

Secara kumulatif, hingga 2025 realisasi investasi di KEK mencapai Rp 336 triliun dengan total penyerapan tenaga kerja sekitar 249 ribu orang.

KEK Kendal, misalnya, mengembangkan program link and match untuk memperkuat keterhubungan antara dunia industri dengan lembaga pendidikan dan pelatihan. Program ini bertujuan memastikan ketersediaan tenaga kerja sesuai kebutuhan industri.

Baca Juga:  Dorong Penyerapan Tenaga Kerja, Penguatan Sektor Manufaktur Jadi Strategi

Juliani Kusumaningrum, Executive Director Kendal Industrial Park, menyebut hingga 2025 KEK Kendal mencatat akumulasi investasi sekitar Rp 187,05 triliun dengan penyerapan tenaga kerja 76.559 orang.

“Sejalan dengan perkembangan tersebut, laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Kendal pada 2025 meningkat signifikan hingga 8,84 persen,” katanya.

Di KEK Sanur, fokus utama diarahkan pada sektor kesehatan dan pariwisata. Vice President Corporate Planning & Strategic Delivery Unit KEK Sanur, Ade Saputra, menjelaskan kawasan ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing layanan kesehatan dalam negeri agar tidak kalah dengan rumah sakit luar negeri.

Salah satu fasilitas unggulan adalah Bali International Hospital yang menyediakan layanan kardiologi, onkologi, neurologi, ortopedi, serta kesehatan ibu dan anak.

Selain itu, tersedia pusat fertilitas Alpha IVF & Women’s Specialist yang bekerja sama dengan jaringan klinik internasional.

KEK Batang juga menjalankan program pemberdayaan masyarakat berbasis empat kerangka utama, yakni ketenagakerjaan, UMKM, lingkungan, dan sosial.

Direktur Pemasaran dan Pengembangan KEK Industropolis Batang, Indri Septa Respati, menyebut program pelatihan menjahit, desain, printing, hingga bahasa Inggris telah diikuti lebih dari 1.800 peserta sejak 2022.

Baca Juga:  Surabaya Buka Peluang Investasi Transportasi Ramah Lingkungan, Tapi Harus Libatkan Warga Lokal

Sementara itu, KEK Nongsa di Batam mengembangkan talenta digital melalui program vokasi Infinite Learning yang bekerja sama dengan Apple Developer Academy, RMIT University, Red Hat, dan IBM.

Hingga kuartal IV 2025, program ini diikuti lebih dari 8.000 peserta. Studio animasi di kawasan tersebut juga telah memproduksi lebih dari 20 film internasional dan tengah menggarap 10 judul animasi baru.

Di sisi lain, KEK Gresik berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui program CSR berbasis lima pilar, antara lain pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan, dan pembangunan infrastruktur sosial.

External Relation and Special Economic Zone Director KEK Gresik, Roro Ayu Yayuk Dwi Hastuti, menyebut kontribusi tersebut tercermin dari peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Gresik yang naik dari 77,30 pada 2021 menjadi 79,69 pada 2025. Tingkat pengangguran juga berhasil ditekan dari 8 persen menjadi 5,47 persen.

Baca Juga:  Ini Komoditas yang Mendominasi Ekspor Perikanan pada 2025

“Hal ini membuktikan KEK Gresik berhasil menjadi pusat investasi industri baru yang mendukung hilirisasi dan rantai pasok industri nasional, serta menciptakan lapangan kerja,” ujarnya.

Kajian Prospera dan LPEM Universitas Indonesia menunjukkan wilayah yang memiliki KEK mampu menarik investasi hingga 77 persen lebih tinggi dibandingkan wilayah non-KEK.

Penyerapan tenaga kerja juga tercatat 52 persen lebih besar, sementara pada KEK industri, investasi asing langsung (FDI) dapat mencapai sekitar 179 persen lebih tinggi.

Dengan capaian tersebut, KEK tidak hanya menjadi pusat investasi, tetapi juga motor penggerak pertumbuhan ekonomi daerah.

Program inovatif di berbagai kawasan membuktikan bahwa KEK mampu menghadirkan manfaat nyata, mulai dari penciptaan lapangan kerja, peningkatan daya saing industri, hingga pemberdayaan masyarakat.

Pemerintah berharap keberhasilan ini dapat memperkuat hilirisasi industri dan menjadikan KEK sebagai salah satu pilar utama pembangunan ekonomi nasional. (*)

TEMANISHA.COM