Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
TOP NEWS

Jika E10 Sukses, RI Bisa Jadi “Arab Saudi” Energi dari Atas Tanah

×

Jika E10 Sukses, RI Bisa Jadi “Arab Saudi” Energi dari Atas Tanah

Sebarkan artikel ini
toplegal

TOPMEDIA – Direktur Utama Pertamina New & Renewable Energy John Anies menilai Indonesia memiliki peluang besar menjadi negara dengan ketahanan energi yang kuat, bahkan disejajarkan dengan Arab Saudi, apabila program pencampuran bioetanol dengan bensin berjalan sukses.

Saat ini pemerintah menargetkan penerapan campuran etanol sebesar 10 persen (E10) pada bensin mulai 2027. Ke depan, kadar campuran tersebut direncanakan meningkat hingga 20 persen dan seterusnya. John meyakini, jika kebijakan ini terealisasi dengan baik, ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar bisa ditekan signifikan.

HALAL BERKAH

Ia mencontohkan keberhasilan program biodiesel 40 persen (B40) yang mampu mengurangi impor solar. Bahkan, pemerintah menargetkan penghentian impor solar tahun ini seiring rencana implementasi B50. Menurutnya, keberhasilan serupa sangat mungkin dicapai melalui pengembangan bioetanol untuk bensin.

Baca Juga:  Jatim Siap Jadi Garda Depan Swasembada Gula Nasional, Ini Alasannya!

Dalam forum diskusi bisnis di Jakarta, John menyampaikan bahwa jika Indonesia mampu memaksimalkan campuran bioetanol pada bensin dan biodiesel pada solar, maka kekuatan energi nasional akan sangat besar. Ia menggambarkan Indonesia bisa menjadi “Arab Saudi versi lain”, dengan sumber energi yang tumbuh dan diproduksi di atas tanah melalui sektor pertanian, bukan dari cadangan minyak di bawah permukaan bumi. Dengan demikian, manfaat ekonominya pun dapat langsung dirasakan masyarakat.

Untuk mewujudkan target tersebut, Pertamina NRE menyiapkan sejumlah strategi guna mempercepat produksi E10 di dalam negeri. Salah satu pendekatan utama adalah mengembangkan konsep multi-feedstock atau penggunaan beragam bahan baku, serta multi-region atau pemanfaatan potensi dari berbagai wilayah di Indonesia.

Baca Juga:  Jawaban Dokter Ahli Soal Tudingan Kecurangan Hasil Tes DNA Lisa Mariana

John menegaskan, pengembangan bioetanol tidak bisa hanya bergantung pada singkong dan tebu. Karena itu, perusahaan juga menjajaki bahan baku lain seperti sorgum dan aren. Ia bahkan menilai aren memiliki prospek besar dan berpotensi menjadi komoditas andalan seperti sawit dalam program biodiesel.

Dari sisi wilayah, setiap daerah dinilai memiliki keunggulan bahan baku masing-masing. Selain singkong dan tebu, sumber lain seperti jagung, sagu, ubi jalar, hingga limbah pertanian juga bisa diolah menjadi bioetanol. Dengan memanfaatkan potensi lokal, produksi dapat dilakukan lebih efisien dan biaya bisa ditekan karena bahan baku tersedia di daerah setempat.

Meski demikian, John mengakui bahwa mewujudkan ambisi tersebut bukan tanpa hambatan. Tantangan dalam implementasi tetap ada, namun ia optimistis dengan strategi yang tepat, Indonesia mampu memperkuat kemandirian energi berbasis sumber daya terbarukan. (*)

TEMANISHA.COM