Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
LIFESTYLE

Penanganan Penyintas Kanker Lansia: Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang

×

Penanganan Penyintas Kanker Lansia: Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi penyyitas kanker. freepik
toplegal

TOPMEDIA-Jumlah penyintas kanker di Indonesia dalam satu dekade terakhir menunjukkan tren peningkatan, termasuk pada kelompok usia lanjut.

Berdasarkan data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN), tanpa strategi penanganan yang lebih komprehensif, beban kasus dan angka kematian akibat kanker di Indonesia pada periode 2025–2040 diproyeksikan melonjak hingga 63 persen.

HALAL BERKAH

Kondisi ini menjadi peringatan penting bagi seluruh pemangku kepentingan di sektor kesehatan.

Tantangan lain yang masih dihadapi adalah rendahnya deteksi dini kanker. Tidak sedikit pasien datang ke fasilitas kesehatan dalam kondisi stadium lanjut.

Padahal, sekitar 50 persen kasus kanker sebenarnya dapat dicegah melalui pola hidup sehat dan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Menurut dr. Daniel Rizky, Sp.PD-KHOM, dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi onkologi yang berpraktik di Primaya Hospital Semarang, meningkatnya angka harapan hidup penyintas kanker tidak terlepas dari kemajuan teknologi diagnostik, terapi yang semakin presisi, serta akses skrining yang lebih luas.

Baca Juga:  Tidak Cuci Muka Setelah Pakai Micellar Water, Aman atau Berisiko?

Sebagai bentuk dukungan terhadap deteksi dini, Primaya Hospital menyediakan paket skrining kanker umum dan khusus wanita sepanjang tahun 2026.

Meski demikian, penanganan kanker pada lansia memiliki kompleksitas tersendiri. Salah satu aspek penting adalah penilaian frailty index atau tingkat kerapuhan biologis pasien.

Kondisi fisik setiap individu tidak selalu sejalan dengan usia kronologisnya. Artinya, terapi tidak dapat disamaratakan hanya berdasarkan usia.

“Tidak semua pasien berusia 70 tahun memiliki kondisi tubuh yang sama. Karena itu, diperlukan evaluasi menyeluruh sebelum menentukan jenis dan dosis terapi,” jelas dr. Daniel.

Ia menegaskan bahwa usia lanjut bukan alasan untuk membatasi pengobatan, melainkan menjadi dasar untuk lebih cermat dalam menentukan strategi terapi.

Baca Juga:  Fajar Sadboy Tutup Mulut Soal Riders Fantastisnya

Penanganan tetap disesuaikan dengan jenis dan stadium kanker, fungsi organ, penyakit penyerta, serta kondisi kebugaran pasien.

Dalam beberapa kasus, kolaborasi dengan dokter spesialis geriatri dibutuhkan agar terapi tetap aman dan efektif.

Pandangan bahwa terapi kanker pada lansia selalu berisiko tinggi juga perlu diluruskan.

Saat ini tersedia berbagai pilihan regimen pengobatan yang lebih ramah bagi pasien usia lanjut, dengan pendekatan yang menyeimbangkan efektivitas terapi dan kualitas hidup.

Keberhasilan pengobatan tidak hanya diukur dari angka harapan hidup, tetapi juga respons tumor terhadap terapi serta kondisi keseharian pasien.

Terapi yang ideal adalah yang mampu mengendalikan penyakit tanpa menurunkan kualitas hidup secara signifikan.

Selain aspek medis, dukungan keluarga berperan besar dalam proses pemulihan. Pembatasan makanan secara ekstrem akibat mitos justru dapat memperburuk kondisi pasien.

Baca Juga:  Mahalini Alami Perubahan Total Setelah Melahirkan

Asupan nutrisi yang cukup sangat penting untuk menunjang daya tahan tubuh selama terapi.

“Kanker bukan sekadar penyakit fisik, tetapi juga berdampak secara emosional dan sosial. Dukungan keluarga membuat pasien merasa tidak sendirian,” ujarnya.

Setelah menyelesaikan pengobatan, penyintas kanker lansia tetap memerlukan kontrol rutin guna mendeteksi potensi kekambuhan dan memantau efek samping terapi jangka panjang.

Pada akhirnya, penanganan penyintas kanker lansia harus mengedepankan pendekatan menyeluruh: terapi medis yang terukur serta dukungan keluarga yang optimal.

Tujuannya bukan hanya memperpanjang usia, melainkan memastikan kualitas hidup tetap terjaga.

TEMANISHA.COM