TOPMEDIA – Paolo Maldini mundur dari posisi strategis di federasi sepak bola Italia FIGC. Mantan penggawa Manchester United, Roy Keane, langsung mengomentari mundurnya mantan bek kiri timnas Italia itu dari posisi Direktur Teknik FIGC tersebut.
Ia bahkan mengatakan bahwa Paolo Maldini bersikap kekanak-kanakan.
Seperti diketahui, legenda sepak bola negeri Pizza itu hanya menjabat 10 hari di posisi tersebut.
Maldini mundur setelah FIGC tidak jadi menunjuk Andrea Pirlo sebagai pelatih baru Timnas Italia.
Padahal sebelumnya, Maldini sebagai direktur teknik FIGC telah mendekati Carlo Ancelotti dan Pep Guardiola untuk melatih Gli Azzuri tapi keduanya menolak.
Pirlo pun jadi pilihan terakhir dan bersedia. Namun sayang, FIGC menolaknya karena menilai Pirlo telah menjadi duta perusahaan judi di Rusia.
Akibat keputusan soal Pirlo ini, Paolo Maldini dikabarkan tidak akur dengan para petinggi FIGC termasuk presiden federasi, Giovanni Malago.
Ada isu soal Malago sebenarnya siap menggelontorkan dana banyak demi menggaet Guardiola, namun misi itu tidak terwujud.
“Saya sama sekali tidak menyukainya. Itu perilaku kekanak-kanakan. Anda tidak meninggalkan proyek hanya karena Anda tidak mendapatkan manajer pilihan Anda. Sepakbola tidak bekerja seperti itu,” kritik Keane yang dilansir dari Mirror, Kamis (30/7/2026).
“Orang-orang terus berbicara tentang loyalitas dan prinsip, itu bagus. Pertahankan pendapat Anda, tegakkan pendirian Anda. Tetapi begitu keputusan dibuat, tugas Anda adalah untuk bergerak maju. Itulah yang dilakukan para pemimpin,” sambungnya.
“Mereka tidak mengamuk hanya karena keadaan tidak berjalan sesuai keinginan mereka,” tambahnya.
Pemain asal Irlandia itu sejujurnya sangat menghormati Paolo Maldini sebagai seorang legenda di sepakbola. Tapi soal tanggung jawab, menurut dia, itu jauh di atas segalanya.
“Maldini adalah legenda sepakbola. Tidak ada yang mempertanyakan apa yang telah dia capai sebagai pemain, tetapi ini bukan tentang reputasi. Ini tentang tanggung jawab,” tegasnya.
“Italia sedang berusaha membangun kembali (reputasi sepakbola) setelah bertahun-tahun mengalami kekecewaan dan membutuhkan orang-orang terbaik untuk membantu menstabilkan keadaan,” tutupnya. (*)



















