TOPMEDIA, JAKARTA – Belakangan ini, sebagian besar masyarakat Indonesia merasakan cuaca yang cukup kontras. Jika pagi hingga siang hari terasa sangat menyengat, namun tiba-tiba hujan turun dengan lebat saat menjelang malam.
Fenomena ini ternyata merupakan dampak dari menguatnya Monsun Australia yang terpantau oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi di langit Indonesia? Berikut adalah rangkuman fenomena cuaca yang sedang berlangsung.
1. Radiasi Matahari di Tengah Hari
BMKG mencatat bahwa Monsun Australia membawa massa udara yang cenderung kering. Kondisi ini menyebabkan berkurangnya tutupan awan pada pagi hingga siang hari.
Tanpa penghalang awan, radiasi matahari pun mencapai permukaan bumi secara maksimal tanpa filter.
Akibatnya, suhu udara di sejumlah wilayah melonjak tajam. Pada periode 4-6 Mei 2026, suhu maksimum terpantau berada di kisaran 35,0°C hingga 37,1°C.
Daerah-daerah yang paling merasakan suhu panas ini meliputi Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah, Papua Barat, Jawa Timur, Sulawesi Tengah, dan Sumatera Utara.
2. Anomali Hujan Lebat di Masa Transisi
Meski cuaca terasa panas membara, bukan berarti potensi hujan hilang sepenuhnya. Suhu yang tinggi justru memicu pola konvektifitas udara yang signifikan.
Udara panas yang naik secara cepat dapat membentuk awan-awan hujan secara mendadak pada sore hingga malam hari.
Terbukti, meski beberapa wilayah mulai memasuki awal kemarau, hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem tetap terjadi.
Beberapa wilayah bahkan mencatat curah hujan yang sangat tinggi, seperti Jawa Barat 159 mm/hari (ekstrem), Kalimantan Barat 131,8 mm/hari, Sulawesi Tenggara 129,8 mm/hari, serta Banten dan Jawa Tengah 120-129 mm/hari
3. Faktor Pengganggu: Dari Gelombang Atmosfer hingga Siklon
Selain Monsun Australia, BMKG menjelaskan bahwa cuaca saat ini juga dipengaruhi oleh fenomena dinamika atmosfer yang kompleks secara bersamaan.
Aktifnya gelombang-gelombang atmosfer berikut menjadi pemicu utama pertumbuhan awan hujan, yakni Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby Ekuatorial & Kelvin, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG)
Tak hanya itu, keberadaan Siklon Tropis Hagupit di utara Papua turut memengaruhi pola angin dan meningkatkan potensi hujan di wilayah-wilayah tertentu, meski musim kemarau sudah di depan mata.
4. Sinyal Masuknya Musim Kemarau
BMKG memprediksi Monsun Australia akan semakin menguat dalam sepekan ke depan. Hal ini ditandai dengan dominasi aliran angin timuran (dari Benua Australia menuju Asia) yang membawa massa udara kering dengan uap air rendah.
“Kondisi tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa beberapa wilayah mulai berangsur memasuki periode peralihan dari musim hujan ke musim kemarau,” tulis BMKG dalam keterangan resminya. (*)



















