TOPMEDIA-Primaya Hospital Kelapa Gading memperkuat layanan Cancer Center dengan menghadirkan metode terapi HIPEC (Hyperthermic Intraperitoneal Chemotherapy) yang dikombinasikan dengan Cytoreductive Surgery (CRS).
Terapi ini menjadi solusi komprehensif bagi pasien kanker yang telah menyebar ke rongga perut atau dikenal sebagai peritoneal carcinomatosis.
Pendekatan tersebut diperkenalkan dalam forum medis bertajuk “Advancing Cancer Care: Peran HIPEC dalam Meningkatkan Survival pada Kanker dengan Keterlibatan Peritoneal” sebagai bagian dari upaya menghadirkan layanan penanganan kanker berstandar internasional di Indonesia.
Kehadiran layanan HIPEC dinilai semakin penting di tengah meningkatnya jumlah kasus kanker di Indonesia. Berdasarkan data dari Global Cancer Observatory (GLOBOCAN), tercatat lebih dari 408.000 kasus kanker baru setiap tahun di Indonesia.
Beberapa jenis kanker seperti Kanker Kolorektal, Kanker Lambung, dan Kanker Ovarium memiliki risiko tinggi menyebar ke rongga peritoneum. Kondisi ini umumnya baru terdeteksi pada stadium lanjut sehingga memiliki tingkat kesembuhan yang lebih menantang.
Selama ini, keterlibatan peritoneum sering menurunkan harapan hidup pasien karena keterbatasan efektivitas kemoterapi sistemik.
Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kombinasi prosedur CRS dan HIPEC mampu meningkatkan median survival pasien secara signifikan, bahkan mendekati dua kali lipat dibandingkan terapi konvensional pada pasien yang memenuhi kriteria.
Metode CRS dilakukan dengan mengangkat tumor secara maksimal dari rongga perut. Setelah itu, prosedur dilanjutkan dengan pemberian kemoterapi bersuhu tinggi langsung ke area peritoneum.
Teknik ini memungkinkan konsentrasi obat lebih tinggi pada area target, meningkatkan penetrasi terapi, sekaligus membantu menghancurkan sel kanker yang tersisa dan tidak terlihat secara kasat mata.
Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan Subspesialis Onkologi di Primaya Hospital Kelapa Gading, dr. Kartiwa Hadi, menjelaskan bahwa metode CRS dan HIPEC merupakan pendekatan terapi definitif pada kasus kanker dengan penyebaran ke peritoneum.
“Pendekatan CRS dan HIPEC tidak hanya mengangkat tumor yang terlihat, tetapi juga menargetkan sel kanker mikroskopis yang berpotensi menyebabkan kekambuhan. Kombinasi suhu panas dan konsentrasi obat tinggi membuat terapi bekerja lebih optimal di area yang sulit dijangkau kemoterapi konvensional,” jelasnya.
Senada dengan itu, Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Bedah Digestif di Primaya Hospital Kelapa Gading, dr. Fajar Firsyada, menekankan bahwa keberhasilan terapi sangat bergantung pada seleksi pasien yang tepat dan pelaksanaan tindakan bedah yang optimal.
“HIPEC menjadi salah satu pendekatan penting dalam menangani kanker dengan keterlibatan peritoneal. Dengan seleksi pasien yang tepat dan tindakan yang maksimal, terapi ini dapat memberikan peluang hidup yang lebih baik dibandingkan metode konvensional,” ungkapnya.
Selama ini, keterbatasan layanan terapi kanker tingkat lanjut di dalam negeri membuat banyak pasien memilih berobat ke luar negeri. Dengan hadirnya layanan HIPEC di Primaya Hospital Kelapa Gading, pasien kini memiliki akses terhadap terapi modern tanpa harus meninggalkan Indonesia.
Direktur Primaya Hospital Kelapa Gading, dr. Ferry Aryo, menegaskan bahwa keberhasilan penanganan kanker tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga kolaborasi tim medis secara multidisiplin.
“HIPEC bukan sekadar teknologi, melainkan bagian dari pendekatan terapi kanker yang komprehensif. Keberhasilan terapi ini sangat bergantung pada kerja sama antara tim bedah, onkologi, anestesi, rehabilitasi, hingga nutrisi klinis,” tegasnya.
Ke depan, Primaya Hospital Kelapa Gading berkomitmen untuk terus mengembangkan layanan kanker berbasis teknologi medis terbaru dan keunggulan klinis. Langkah ini juga memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat rujukan kanker berstandar internasional di Indonesia.
Kehadiran layanan HIPEC diharapkan mampu meningkatkan kualitas penanganan kanker di dalam negeri sekaligus memberikan keyakinan bagi masyarakat bahwa terapi kanker modern dapat diakses secara lebih dekat, efisien, dan terintegrasi.



















