TOPMEDIA – Prospek pasar baja global diperkirakan tumbuh terbatas dalam jangka pendek. World Steel Association memproyeksikan permintaan baja dunia hanya naik 0,3 persen pada 2026 menjadi 1,72 miliar ton, sebelum menguat 2,2 persen pada 2027.
Kondisi ini menimbulkan tantangan bagi industri baja nasional yang harus beradaptasi dengan tekanan biaya bahan baku, energi, serta kebijakan proteksionis di berbagai negara.
Ketua Umum Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA), Akbar Djohan, menegaskan perlunya strategi efisiensi dan hilirisasi untuk menjaga daya saing.
“Industri baja Indonesia harus mampu menekan biaya logistik dan memperkuat rantai pasok domestik. Hilirisasi menjadi kunci agar kita tidak hanya bergantung pada impor material semi-finished, terutama ketika pasokan dari negara seperti Iran berkurang,” ujarnya.
Akbar menambahkan, tren global menunjukkan adanya pergeseran ke arah baja rendah emisi.
Produsen besar seperti Nippon Steel dan Gerdau mulai mengembangkan teknologi berbasis hidrogen dan energi terbarukan.
“Indonesia juga harus menyiapkan roadmap transisi menuju baja hijau agar tidak tertinggal dalam kompetisi global,” katanya.
Di Tiongkok, pelemahan sektor properti masih menekan permintaan baja, meski investasi infrastruktur dan ekspor manufaktur relatif stabil.
Harga slab dan flat product naik akibat tingginya biaya logistik dan energi, sementara produsen di Taiwan melakukan penyesuaian harga agresif.
Selain itu, kebijakan proteksionis semakin ketat. Uni Eropa menurunkan kuota impor bebas bea dan menaikkan tarif untuk volume di atas kuota.
Australia, Amerika Serikat, dan Korea Selatan juga memperluas penyelidikan anti-dumping terhadap produk baja.
Akbar menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri. “Kita harus memperkuat kapasitas produksi dalam negeri, memastikan keterjangkauan harga, dan menjaga stabilitas pasokan. Dengan begitu, industri baja nasional bisa tetap tumbuh meski pasar global penuh tekanan,” jelasnya.
Dengan proyeksi pertumbuhan global yang terbatas, IISIA menilai Indonesia perlu mempercepat hilirisasi, efisiensi biaya, dan transisi menuju baja rendah emisi.
“Industri baja nasional harus melihat tantangan ini sebagai momentum untuk bertransformasi. Jika kita mampu beradaptasi, maka daya saing Indonesia akan tetap terjaga di pasar global,” pungkas Akbar. (*)



















