Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
SPORTAINMENT

Gol Enzo Fernandez Bawa Chelsea ke Final Piala FA, Jadi Pahlawan di Era Pelatih Interim

×

Gol Enzo Fernandez Bawa Chelsea ke Final Piala FA, Jadi Pahlawan di Era Pelatih Interim

Sebarkan artikel ini
Gelandang asal Argentina itu tampil lebih percaya diri dan berperan besar di lini tengah. IG:chelsea.
toplegal

TOPMEDIA-Gol kemenangan itu seakan memang sudah menjadi milik Enzo Fernández. Gelandang asal Argentina tersebut menjadi sosok yang paling mencerminkan naik-turunnya performa tim selama masa kepelatihan Liam Rosenior di Chelsea.’

Ironisnya, di bawah pelatih interim Calum McFarlane, Fernández justru tampil sebagai penentu kemenangan yang membawa The Blues melangkah ke final FA Cup.

HALAL BERKAH

Situasi ini menjadi gambaran jelas tentang perbedaan sudut pandang dua pelatih. Pemain yang sebelumnya dianggap bermasalah oleh satu pelatih, kini berubah menjadi pahlawan bagi pelatih lainnya. Gol Fernández di babak pertama memastikan langkah Chelsea ke partai puncak turnamen tertua di Inggris tersebut.

“Hal paling mengesankan dari Fernández adalah mental bertarungnya. Dalam situasi sulit, tidak selalu dibutuhkan rencana sempurna. Ia akan terus berlari dan berjuang, dan itulah yang sering menjadi penentu,” ujar McFarlane usai pertandingan.

Komentar tersebut mungkin membuat Rosenior tersenyum kecut. Pelatih yang dipecat pada Rabu lalu itu hanya bertahan 106 hari di kursi pelatih Stamford Bridge. Ia mungkin menyaksikan laga semifinal saat mantan timnya mengalahkan Leeds United dengan skor tipis 1-0 di Wembley Stadium.

Baca Juga:  Garuda Calling! 41 Pemain Dipanggil untuk Skuad Sementara Timnas Hadapi FIFA Series 2026

Jika Rosenior menyaksikan pertandingan tersebut, ia kemungkinan sulit mengenali performa beberapa pemain lamanya. Salah satunya tentu Fernández, gelandang juara FIFA World Cup yang didatangkan dengan nilai transfer fantastis mencapai £106 juta.

Fernández selama ini dikenal sebagai simbol potensi besar sekaligus inkonsistensi skuad mahal Chelsea. Performa sang pemain kerap berubah-ubah—tampil impresif dalam satu laga, namun menurun pada laga berikutnya, terutama ketika tim menghadapi tekanan.

Rosenior gagal mengubah citra tersebut. Bahkan, tidak sedikit pihak menilai Fernández menjadi salah satu pemain yang paling membuat frustrasi pelatih itu. Meski memiliki kualitas tinggi, performanya sempat menurun hingga memicu rumor kepindahan ke Real Madrid atau Manchester City pada bursa transfer musim panas.

Namun, wajah Fernández yang berbeda terlihat saat menghadapi Leeds. Dalam laga pertama sejak McFarlane ditunjuk sebagai pelatih interim, gelandang asal Argentina itu tampil lebih percaya diri dan berperan besar di lini tengah.

Sebelumnya, Rosenior sempat menjatuhkan sanksi larangan bermain kepada Fernández selama dua pertandingan, yakni saat menghadapi Port Vale dan Manchester City. Sanksi tersebut terkait komentarnya mengenai peluang pindah ke Madrid serta kritik terhadap pemecatan pelatih Enzo Maresca pada Januari lalu.

Baca Juga:  Donnarumma Akan Tinggalkan PSG, Mancity, Bayern dan Chelsea Siap Menampung?

Meski demikian, performa buruk bukan hanya kesalahan pelatih. Sejumlah pemain utama Chelsea juga dinilai gagal menunjukkan konsistensi. Rentetan lima kekalahan beruntun di Premier League tanpa mencetak gol praktis mengubur peluang klub untuk lolos ke UEFA Champions League musim depan.

Beberapa pemain seperti Cole Palmer, Marc Cucurella, João Pedro, serta penjaga gawang Robert Sánchez turut berkontribusi dalam periode buruk tersebut.

Namun, wajah Chelsea yang berbeda terlihat saat menghadapi Leeds. Tim yang sebelumnya dinilai kurang kompak akhirnya menunjukkan kualitas sebenarnya.

Fernández menjadi pemain paling berpengaruh. Gol sundulannya pada menit ke-23 memanfaatkan umpan silang Pedro Neto menjadi satu-satunya gol dalam pertandingan. Meski demikian, kemenangan juga tidak lepas dari tiga penyelamatan penting yang dilakukan Sánchez.

Lebih dari sekadar mencetak gol, Fernández juga mengontrol jalannya pertandingan di lini tengah. Ia tampil agresif, disiplin, dan menunjukkan kepemimpinan di lapangan saat mengenakan ban kapten.

Performa tersebut sangat kontras dengan masa kepelatihan Rosenior. Saat itu, Fernández tetap tampil di sebagian besar pertandingan, namun tidak menunjukkan jiwa kepemimpinan seperti yang terlihat dalam laga melawan Leeds.

Baca Juga:  Dominasi Inggris Nestapa Madrid: Jadwal Drawing dan Peta Kekuatan Babak Gugur Liga Champions 2025/26

Dalam pertandingan tersebut, meski McFarlane berada di pinggir lapangan memberikan instruksi, Fernández justru terlihat sebagai sosok yang mengendalikan permainan.

Salah satu momen penting terjadi di babak kedua. Fernández meminta kiper Sánchez untuk menjatuhkan diri seolah membutuhkan perawatan. Langkah tersebut memberi waktu bagi tim untuk menyusun ulang strategi setelah pelatih Leeds, Daniel Farke, mengubah formasi dari tiga bek menjadi empat bek.

Fernández dengan cepat menyadari kesulitan tim dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan taktik lawan. Ia mengambil inisiatif sebagai pemain senior untuk membantu tim beradaptasi.

Penampilan tersebut menunjukkan kualitas kepemimpinan yang sebelumnya jarang terlihat. Hal itu pula yang kemungkinan membuat Rosenior bertanya-tanya, mengapa performa seperti itu tidak muncul saat dirinya masih memimpin tim.

Dengan kemenangan ini, Chelsea memastikan satu tempat di final Piala FA dan akan menghadapi tantangan berat melawan tim asuhan Pep Guardiola dari Manchester City pada laga puncak bulan depan.

TEMANISHA.COM