TOPMEDIA – Sebuah penelitian terbaru dari University of Technology Sydney mengungkap temuan yang patut diperhatikan terkait penggunaan rokok elektronik atau vape. Studi ini menunjukkan bahwa perangkat vape dapat membawa logam berbahaya masuk langsung ke jaringan paru-paru, sehingga menantang anggapan bahwa vape lebih aman dibandingkan rokok biasa.
Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa penggunaan vape, bahkan dalam waktu singkat dan pada tingkat paparan yang lebih rendah dari kebiasaan harian, tetap bisa menyebabkan penumpukan logam beracun di paru-paru. Beberapa logam yang terdeteksi antara lain timbal, tembaga, dan nikel.
Selain itu, studi praklinis ini juga menemukan adanya kandungan logam yang berkaitan dengan timah dan merkuri dalam aerosol vape. Jenis logam ini dinilai lebih mudah diserap tubuh dan memiliki reaktivitas biologis yang lebih tinggi dibandingkan logam anorganik biasa.
Peneliti utama studi tersebut, Dayanne Bordin, menyebut temuan ini sebagai risiko yang selama ini kurang disadari.
“Profil logam yang diamati konsisten dengan emisi dari koil pemanas dan komponen listrik,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa penilaian keamanan selama ini sering mengabaikan sumber emisi dari bagian perangkat, seperti koil pemanas.
Berbeda dengan rokok konvensional, perangkat vape memiliki banyak variasi dari segi desain dan kualitas produksi. Hal ini justru bisa meningkatkan risiko paparan zat berbahaya bagi pengguna.
Temuan ini muncul di tengah meningkatnya tren penggunaan vape, terutama di kalangan anak muda. Di Australia sendiri, penggunaan vape pada orang dewasa muda melonjak dari 5,3 persen pada 2019 menjadi lebih dari 21 persen pada 2023, dengan tren serupa juga terlihat pada remaja.
Melihat kondisi tersebut, para peneliti mendorong adanya evaluasi ulang terhadap regulasi vape. Mereka menyarankan agar dilakukan pengujian rutin terhadap emisi perangkat, serta pembaruan panduan kesehatan publik terkait paparan logam dan dampak penumpukannya dalam tubuh. (*)



















