TOPMEDIA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur resmi memulai proses pemugaran sayap barat Gedung Negara Grahadi, Rabu (1/4/2026). Langkah ini merupakan tindak lanjut atas kerusakan akibat insiden pelemparan molotov yang memicu kebakaran pada Agustus 2025 lalu.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menegaskan bahwa pemugaran dilakukan dengan prinsip utama menjaga keaslian bangunan cagar budaya.
“Kita ingin memastikan semaksimal mungkin ini mirip dengan aslinya. Bangunan ini dulu dibangun tanpa semen, jadi kapur itu sekaligus sebagai perekat. Bahkan kapur yang dulu dipakai katanya dari Belanda, sekarang kita gunakan dari Jerman,” ujarnya.
Khofifah menekankan bahwa pemugaran tidak dilakukan pada seluruh bangunan, melainkan hanya pada bagian sayap barat yang terdampak.
“Jadi kawan-kawan menulisnya jangan pemugaran Grahadi, tapi pemugaran bangunan sayap barat Gedung Negara Grahadi,” tegasnya.
Menurutnya, sebagian besar struktur bangunan yang masih utuh tetap dipertahankan tanpa perubahan.
“Sebagian besar yang existing ini tidak akan dirombak. Kita memaksimalkan pelestarian cagar budaya ini,” katanya.
Selain itu, Khofifah mengajak masyarakat untuk turut menjaga keberadaan bangunan bersejarah di Jawa Timur.
“Kita punya tanggung jawab bersama untuk menjaga dan melestarikan cagar budaya, bukan hanya di Grahadi tapi semua yang kita miliki,” imbuhnya.
Detail Proyek Pemugaran
Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Cipta Karya Jatim, I Nyoman Gunadi, menjelaskan bahwa proyek pemugaran berlangsung selama 210 hari kalender, mulai 30 Maret hingga 25 Oktober 2026.
“Anggaran berasal dari APBD Provinsi Jawa Timur dengan nilai kontrak sebesar Rp12,76 miliar, dengan kontraktor pelaksana CV Jaya Wibowo,” jelasnya.
Proses pemugaran melibatkan tenaga ahli dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), ahli struktur, hingga tim pelestarian cagar budaya.
Sejumlah penguatan dilakukan tanpa menghilangkan karakter asli bangunan, seperti penambahan ring balok untuk memperkuat struktur atap.
Material khusus juga digunakan, termasuk kapur dari Jerman agar dinding tetap “bernapas”, kusen kayu jati, engsel dari pengrajin Sumenep, dan lantai marmer mengikuti bangunan utama.
Sebagai langkah mitigasi, sistem pemadam kebakaran modern juga dipasang untuk mencegah insiden serupa di masa depan.
“Setiap intervensi harus didahului identifikasi dan dokumentasi untuk memastikan pelestarian tetap terjaga,” tegas Nyoman. (*)



















