
TOPMEDIA : Pemerintah melalui pihak Istana Kepresidenan mengungkapkan bahwa rencana perubahan skema penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih dalam tahap penyelesaian. Wacana yang tengah dibahas adalah pengurangan hari distribusi dari enam kali menjadi lima kali dalam sepekan.
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menyampaikan bahwa pembahasan terkait kebijakan tersebut masih difinalisasi oleh pemerintah. Ia menegaskan keputusan resmi akan segera diumumkan setelah seluruh kajian rampung.
Menurut pemerintah, langkah efisiensi ini menjadi bagian dari penyesuaian anggaran negara di tengah tekanan global. Salah satu faktor yang dipertimbangkan adalah konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia. Kondisi ini dikhawatirkan berdampak pada meningkatnya beban subsidi energi dalam APBN.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa pengurangan frekuensi penyaluran MBG diusulkan sebagai upaya penghematan anggaran. Ia menyebut Badan Gizi Nasional telah mengajukan efisiensi yang nilainya diperkirakan bisa mencapai Rp40 triliun.
Meski ada rencana pengurangan jumlah hari distribusi, Purbaya memastikan kualitas makanan dalam program tersebut tetap dijaga. Ia menegaskan bahwa efisiensi tidak akan mengorbankan standar gizi yang diberikan kepada para penerima manfaat.
Sebagai informasi, anggaran program MBG dalam APBN 2026 mencapai Rp335 triliun, dengan target penerima manfaat sebanyak 82,9 juta orang hingga akhir tahun. Hingga awal Maret 2026, realisasi anggaran program ini telah menyentuh Rp44 triliun. Sementara dalam dua bulan pertama tahun ini, rata-rata penyerapan anggaran tercatat sekitar Rp19 triliun per bulan.
Program MBG sendiri merupakan salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto yang bertujuan meningkatkan asupan gizi masyarakat, khususnya bagi kelompok rentan. (*)
