TOPMEDIA – Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa kunjungan kerjanya ke luar negeri bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari upaya melindungi kepentingan rakyat. Salah satu fokus utama dari lawatan tersebut adalah menjaga sekaligus membuka peluang lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia.
Dalam pernyataannya, Prabowo menjelaskan bahwa meskipun para menteri telah menjalankan tugas masing-masing, ada sejumlah hal strategis yang membutuhkan keterlibatan langsung seorang kepala negara. Ia menyebut proses lobi hingga pengambilan keputusan penting sering kali harus dilakukan secara langsung agar mencapai hasil maksimal.
Menurutnya, dalam hubungan antarnegara, Indonesia harus memiliki posisi tawar yang kuat. Hal itu dinilai penting agar kepentingan nasional tetap terjaga di tengah dinamika global yang terus berkembang. Ia menegaskan bahwa penguatan posisi tersebut menjadi salah satu prioritas pemerintah saat ini.
Dalam waktu dekat, Prabowo dijadwalkan kembali melakukan kunjungan ke beberapa negara. Berdasarkan agenda yang disiapkan Kementerian Luar Negeri, ia akan bertolak ke Jepang pada 29 hingga 31 Maret, sebelum melanjutkan perjalanan ke Korea Selatan pada 31 Maret hingga 2 April.
Selama berada di Jepang, Prabowo direncanakan menghadiri jamuan makan siang kenegaraan bersama Kaisar Jepang serta melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri Sanae Takaichi. Kunjungan ini diharapkan dapat memperkuat kerja sama strategis antara kedua negara.
Sementara itu, di Korea Selatan, Prabowo akan bertemu dengan Presiden Lee Jae Myung. Pertemuan tersebut akan membahas berbagai peluang kerja sama, mulai dari perdagangan dan investasi hingga sektor industri pertahanan, teknologi, infrastruktur, energi, dan budaya.
Selain itu, kedua negara juga dijadwalkan membahas penguatan hubungan antara kawasan ASEAN dengan Korea Selatan, serta isu-isu global dan keamanan yang menjadi perhatian bersama.
Melalui rangkaian kunjungan ini, pemerintah berharap dapat memperluas kerja sama internasional sekaligus membawa manfaat nyata bagi masyarakat Indonesia. (*)



















