TOPMEDIA – Euforia mudik dan lezatnya hidangan Lebaran perlahan akan mulai berganti dengan tumpukan tugas akademik.
Bagi banyak mahasiswa di Surabaya, transisi dari santainya ritme kampung halaman menuju ketatnya jadwal kuliah sering kali memicu fenomena post-holiday blues. Kondisi ini ditandai dengan perasaan lesu, hilangnya semangat, hingga kesulitan konsentrasi yang akut.
Psikolog Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Meita Santi Budiani, mengingatkan bahwa fenomena ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Menurutnya, mahasiswa butuh strategi transisi yang terukur agar mesin motivasi kembali panas.
“Langkah awal yang krusial adalah refleksi. Cek lagi capaian akademik sebelum libur. Identifikasi poin mana yang harus segera dikejar,” tegas Meita, Jumat (27/3/2026).
Meita menjelaskan bahwa pemetaan ulang target bukan sekadar soal tugas yang menumpuk, melainkan membangun kembali arah diri.

Mahasiswa disarankan meninjau kembali alasan fundamental di balik target-target mereka, terutama dalam menghadapi persaingan dunia kerja yang semakin kompetitif.
“Keunggulan kompetitif tidak hanya lahir dari nilai di transkrip, tapi juga soft skill. Masa transisi ini momentum tepat untuk memacu kembali potensi diri agar siap menghadapi kompetitor di masa depan,” imbuhnya.
Ia menyampaikan, kunci utama untuk mengalahkan rasa malas pascalibur adalah self-awareness. Mahasiswa yang paham ritme kerja dan kondisi emosinya akan lebih mudah menentukan cara belajar yang efektif.
Meita pun menyarankan penggunaan Metode Pomodoro agar fokus belajar kembali pulih.
Teknik ini membagi waktu kerja menjadi interval yang terbagi dalam 25 menit untuk fokus penuh pada tugas, 5 menit istirahat singkat, dan pengulangan siklus tersebut secara konsisten.
“Metode ini menjaga produktivitas tanpa membuat mental terbebani. Kita bisa mulai menyicil pekerjaan secara bertahap meskipun mood belajar belum kembali 100 persen,” ungkapnya.
Dengan transisi yang tertata dan teknik kerja yang praktis, mahasiswa diharapkan tidak hanya mampu menuntaskan tanggung jawab akademik, tetapi juga membentuk mentalitas tangguh dalam menghadapi tantangan masa depan. (*)



















