Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
INTERNATIONAL

Harga Minyak Meroket di Tengah Konflik Iran-AS, Selat Hormuz Jadi Kunci

×

Harga Minyak Meroket di Tengah Konflik Iran-AS, Selat Hormuz Jadi Kunci

Sebarkan artikel ini
toplegal

TOPMEDIA – Harga minyak dunia kembali melonjak hingga menembus angka 100 dolar AS per barel di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Situasi ini berkaitan erat dengan kondisi di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima distribusi minyak global.

Pemerintah Iran menyalahkan Amerika Serikat dan Israel atas memanasnya situasi di kawasan tersebut. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut gangguan terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dipicu oleh serangan dari kedua negara tersebut.

HALAL BERKAH

Dalam percakapan dengan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, Araghchi menyerukan agar negara-negara di dunia mengecam tindakan militer yang dilakukan terhadap Iran dan mendorong penghentian agresi tersebut.

Lonjakan harga minyak pun tak terhindarkan. Minyak mentah Brent sebagai acuan global tercatat naik sekitar 2,5 persen hingga mencapai 105,70 dolar AS per barel pada 16 Maret 2026. Secara keseluruhan, harga ini sudah meningkat lebih dari 40 persen sejak konflik mulai memanas pada akhir Februari.

Baca Juga:  Melesat ke Peringkat 36 Dunia, Janice Tjen Bidik Sunshine Swing di Meksiko

Di tengah ketegangan, muncul laporan bahwa beberapa negara tengah bernegosiasi dengan Iran demi mendapatkan jalur aman bagi kapal tanker mereka. Sebelumnya, seorang pejabat senior dari Korps Garda Revolusi Islam Iran sempat menyatakan bahwa Selat Hormuz “ditutup” dan mengancam kapal yang melintas. Namun, Araghchi kemudian menegaskan bahwa selat tersebut tetap terbuka, meski tidak bagi pihak yang dianggap sebagai musuh Iran.

Irak menjadi salah satu negara yang telah mencapai kesepakatan dengan Iran. Menteri Perminyakan Irak, Hayan Abdul-Ghani, menyatakan bahwa kapal tanker negaranya tetap bisa melintasi jalur tersebut dengan aman.

Sementara itu, Presiden Donald Trump mengusulkan pembentukan koalisi angkatan laut internasional untuk mengamankan Selat Hormuz. Ia bahkan mendesak negara-negara anggota NATO untuk ikut terlibat, disertai peringatan keras bagi yang menolak.

Baca Juga:  Iran Boikot Piala Dunia 2026, Timnas Indonesia Intip Celah Durian Runtuh?

Namun, tidak semua negara merespons positif ajakan tersebut. Presiden Emmanuel Macron menegaskan bahwa Prancis tidak akan ambil bagian dalam operasi militer selama konflik masih berlangsung. Ia menilai negaranya bukan pihak dalam konflik tersebut, sehingga tidak akan terlibat dalam upaya pembukaan jalur secara paksa.

Dari pihak Uni Eropa, Kepala Kebijakan Luar Negeri Kaja Kallas menekankan pentingnya solusi diplomatik. Ia menyebut Uni Eropa tengah mencari jalan untuk menjamin kelancaran pelayaran di Selat Hormuz sekaligus meredam dampak lonjakan harga energi terhadap pasar global.

Kallas juga menegaskan bahwa Uni Eropa belum berencana memperluas misi Aspides yang sebelumnya dibentuk untuk melindungi kapal dari ancaman di Laut Merah. Menurutnya, tidak ada negara yang siap mengambil risiko besar dengan mengirimkan pasukan ke wilayah konflik.

Baca Juga:  Presiden Perancis Apresiasi Langkah Komdigi Batasi Anak Bersosialisasi Media

Di sisi lain, Kepala Organisasi Maritim Internasional, Arsenio Dominguez, mengingatkan bahwa pengawalan militer bukan jaminan penuh bagi keselamatan kapal yang melintas di Selat Hormuz. Ia menilai pendekatan militer juga bukan solusi jangka panjang untuk mengatasi krisis tersebut.

Situasi ini menunjukkan bahwa ketegangan geopolitik tidak hanya berdampak pada keamanan kawasan, tetapi juga langsung memengaruhi stabilitas harga energi global. (*)

TEMANISHA.COM