TOPMEDIA – Pelaku usaha impor bahan baku di Indonesia mulai resah dengan ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat yang tak kunjung usai.
Konflik berkepanjangan dinilai berpotensi mengganggu perdagangan global, memicu kenaikan harga komoditas, hingga menghambat rantai pasok yang berdampak langsung pada industri dalam negeri.
Ketua Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Jawa Timur, Hana Belladina, menegaskan bahwa ketidakstabilan global dapat menimbulkan efek domino terhadap aktivitas impor.
“Konflik atau ketegangan geopolitik yang berlangsung beberapa hari saja sudah bisa memberi dampak tidak langsung bagi pelaku usaha di banyak negara, termasuk importir bahan baku di Indonesia,” ujarnya di Surabaya, Rabu (11/3/2026).
Bella menjelaskan bahwa dampak tersebut muncul melalui jalur perdagangan global, logistik, hingga pergerakan harga komoditas.
Salah satu yang paling terasa adalah kenaikan harga bahan baku impor, terutama energi, logam, dan bahan kimia.
“Jika harga minyak dunia naik, biaya produksi bahan baku ikut meningkat dan pada akhirnya harga barang impor juga naik. Kondisi ini membuat margin keuntungan pelaku usaha menurun dan tidak jarang harga produk akhir terpaksa dinaikkan,” tambahnya.
Kenaikan Harga dan Gangguan Pasok
Konflik di Timur Tengah berkaitan erat dengan dinamika harga minyak mentah dunia. Peperangan di kawasan tersebut menyebabkan harga crude oil meningkat, sehingga berdampak pada industri plastik baik di dalam negeri maupun negara produsen seperti China. Akibatnya, harga plastik di pasar global naik sekitar 14,5 persen.
Selain harga, rantai pasok juga berisiko terganggu. Jalur perdagangan internasional yang terdampak konflik memaksa kapal pengangkut barang mengubah rute pelayaran, sehingga waktu pengiriman menjadi lebih lama dan jadwal tidak menentu.
“Bagi importir, keterlambatan bahan baku bisa berdampak langsung pada aktivitas produksi di pabrik dalam negeri. Jika pasokan terganggu, maka produksi juga bisa ikut terhambat,” jelas Bella.
Situasi global yang tidak stabil juga mendorong kenaikan biaya logistik dan asuransi pengiriman internasional.
Tarif kontainer meningkat karena risiko pelayaran lebih tinggi, ditambah biaya bahan bakar kapal yang naik akibat lonjakan harga minyak mentah.
Bella menegaskan bahwa pihaknya masih memantau perkembangan tarif ongkir dari China karena situasi sangat dinamis.
Selain minyak mentah, Indonesia juga mengimpor berbagai komoditas penting dari Timur Tengah seperti petrokimia (polypropylene, polyethylene, methanol, styrene, ethylene glycol) serta pupuk dan bahan baku pupuk (urea, ammonia, DAP, sulfur).
Bahan-bahan tersebut digunakan oleh industri plastik, kemasan, tekstil sintetis, otomotif, elektronik, hingga pertanian. (*)



















