TOPMEDIA – Kinerja PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mulai tersingkap. Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara memberikan sinyal positif bahwa maskapai pelat merah tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan signifikan pada awal tahun ini, setelah sempat terpukul di sepanjang 2025.
Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, menegaskan bahwa laporan keuangan tahun 2025 yang masih mencatatkan rapor merah belum mencerminkan kondisi sebenarnya saat ini. Sebab, intervensi besar-besaran dari pemerintah baru dilakukan di penghujung tahun lalu.
Dony tidak menampik bahwa tahun 2025 adalah periode yang menyesakkan bagi Garuda. Masalah utama yang mencekik keuangan perusahaan adalah banyaknya armada yang tidak beroperasi atau grounded.
“Itu kan problem yang dibukukan hari ini adalah pendapatan 2025. Intervensi yang kita lakukan baru di akhir tahun. Nah, nanti performa aslinya baru terlihat di kuartal I dan II 2026,” ujar Dony di Jakarta, Minggu (29/3).
Tantangan teknis seperti lamanya proses perawatan pesawat (maintenance, repair, and overhaul/MRO) serta beban biaya sewa pesawat yang terus berjalan meski burung besi tersebut hanya terparkir di hanggar menjadi beban berat.
Namun, Dony memastikan jumlah pesawat yang kembali mengudara kini terus bertambah meski belum mencapai angka 100 persen.
Sinyal kebangkitan grup maskapai ini rupanya sudah mulai terdeteksi lewat anak usahanya, Citilink. Menurut Dony, maskapai bertarif rendah (LCC) tersebut sudah mencatatkan hasil positif pada kuartal I-2026.
“Kita masih banyak PR yang harus dikerjakan. Karena tidak cukup hanya dengan memberikan uang, tapi juga transformasinya yang penting,” tegas mantan petinggi Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney) tersebut.
Sebagai catatan, sepanjang 2025 Garuda Indonesia memang masih mencatatkan rugi bersih sebesar USD 319,39 juta. Namun, angka ini diprediksi akan terkoreksi tajam seiring masuknya modal jumbo.
Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny H. Kairupan, sebelumnya mengungkapkan bahwa suntikan modal senilai Rp 23,67 triliun dari PT Danantara Asset Management (DAM) menjadi darah segar bagi operasional maskapai.
Alokasi dana itu sebesar 37 persen atau Rp 8,7 triliun untuk modal kerja maskapai berupa pemeliharaan pesawat dan peningkatan layanan. Kemudian sebesar 63 persen atau Rp 14,9 triliun untuk operasional Citilink yang dipergunakan untuk penguatan armada dan pelunasan utang avtur ke Pertamina selama periode 2019–2021.
Dengan amunisi triliunan rupiah tersebut, manajemen Garuda kini fokus pada percepatan perbaikan pesawat agar bisa memenuhi lonjakan permintaan pasar.
Jika transformasi ini berjalan mulus, bukan tidak mungkin Garuda Indonesia akan kembali terbang tinggi dan meninggalkan zona merah dalam waktu dekat.
Para investor dan pengguna jasa pun kini menanti rilis laporan keuangan kuartal pertama yang diprediksi bakal menjadi titik balik kejayaan sang maskapai pembawa bendera negara. (*)



















