Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
ECONOMY & FINANCE

Mentan Klaim Sembilan Komoditas Pangan Ini Sudah Swasembada, Perkuat Stok Jelang Ramadan

×

Mentan Klaim Sembilan Komoditas Pangan Ini Sudah Swasembada, Perkuat Stok Jelang Ramadan

Sebarkan artikel ini
Beras, salah satu sembako yang telah mencapai swasembada pangan. (Foto: Istimewa)
toplegal

TOPMEDIA – Menteri Pertanian (Mentan) yang juga Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman, menyatakan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada pada sembilan komoditas pangan strategis nasional.

Capaian tersebut disebut sebagai hasil peningkatan produksi, penguatan cadangan, serta konsistensi kebijakan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir.

HALAL BERKAH

Pernyataan itu disampaikan Amran saat meresmikan Gerakan Pangan Murah (GPM) Serentak Nasional di kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Jumat (13/2/2026).

“Produksi kita tinggi, stok kita banyak. Yang swasembada pangan kita sudah sembilan komoditas, yang belum ada tiga. Yang tiga ini pun belum swasembada, tapi stoknya sudah banyak,” tegasnya.

Berdasarkan neraca pangan hingga April 2026, sembilan komoditas yang telah mencapai swasembada dan berada dalam posisi surplus stok meliputi beras, gula konsumsi, cabai besar, cabai rawit, jagung, minyak goreng, daging ayam, telur ayam, serta bawang merah.

Baca Juga:  Curhatan Pelaku Usaha Dibalik Wacana Program Gentengisasi

Menurut Amran, surplus tersebut menjadi bantalan kuat untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga, terutama menjelang periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Tahun Baru Imlek, Nyepi, Ramadhan, hingga Idul Fitri 1447 Hijriah.

Ia menegaskan, kondisi stok yang melimpah tidak memberi ruang bagi lonjakan harga yang tidak wajar di tingkat konsumen. Pemerintah meminta seluruh pelaku usaha mematuhi harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan.

“Tidak ada alasan beras naik. Stok kita tertinggi sepanjang sejarah. Minyak goreng, kita produsen terbesar dunia, stok pemerintah 700 ribu ton, harga maksimal Rp15.700. Daging ayam harga acuannya Rp40.000, daging sapi Rp140.000. Semua harus patuh,” kata Amran.

Khusus untuk komoditas beras, stok nasional tercatat sekitar 3,4 juta ton pada Februari 2026. Jumlah ini dua kali lipat dari kondisi normal yang biasanya berada di kisaran 1–1,5 juta ton.

Baca Juga:  Lantik Pejabat Kemenkeu, Purbaya Minta Jangan Main Main Kejar Tax Ratio 12 Persen

Pemerintah juga menyiapkan cadangan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebesar 1,5 juta ton dengan harga maksimal Rp12.500 per kilogram.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) turut memperkuat optimisme tersebut. Pada periode Januari–Maret 2026, potensi produksi padi diperkirakan mencapai 17,65 juta ton gabah kering giling (GKG), meningkat 2,41 juta ton atau 15,80 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Adapun potensi produksi beras pada periode yang sama diperkirakan sebesar 10,16 juta ton, naik 1,39 juta ton atau 15,79 persen dibandingkan Januari–Maret 2025.

Meski demikian, Amran mengakui masih terdapat sejumlah komoditas yang belum sepenuhnya swasembada, yakni bawang putih, kedelai, daging sapi/kerbau, serta gula industri.

Pemerintah tengah memperkuat strategi peningkatan produksi domestik agar ketergantungan impor dapat ditekan.

Amran menilai, meskipun belum sepenuhnya swasembada, stok komoditas tersebut tetap dalam kondisi aman sehingga kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.

Baca Juga:  Diabetes Kini Bukan Lagi Penyakit Lansia

Untuk memastikan kebijakan harga berjalan efektif, pemerintah memperkuat pengawasan stok dan distribusi melalui kolaborasi lintas kementerian/lembaga, pemerintah daerah, serta Satuan Tugas (Satgas) Pangan.

Pengawasan, kata Amran, difokuskan pada jalur distribusi besar seperti pabrik dan distributor utama, bukan pada pedagang kecil. “Kalau ada yang mencoba menaikkan harga, pemerintah bersama Satgas Pangan akan menindak tegas,” ujarnya.

Sebagai bagian dari strategi stabilisasi, pemerintah mulai melaksanakan GPM secara serentak di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota. Program ini merupakan sinergi antara Bapanas, Kementerian Pertanian, pemerintah daerah, BUMN pangan seperti Perum Bulog, serta pelaku usaha.

Melalui intervensi langsung di pasar, pemerintah berharap masyarakat dapat memperoleh pangan yang cukup, aman, dan terjangkau, sekaligus menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah meningkatnya permintaan menjelang Ramadan dan Idul Fitri. (*)

TEMANISHA.COM