TOPMEDIA — Keputusan Bloomberg menunjuk Presiden ke-7 Indonesia, Joko Widodo, sebagai anggota Dewan Penasihat Global Bloomberg News Economy menuai perhatian publik.
Akademisi menilai langkah ini bukan hanya bentuk pengakuan internasional terhadap kiprah Jokowi, tetapi juga membuka peluang baru bagi Indonesia di kancah ekonomi dunia.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB Unair), Prof Rossanto Dwi Handoyo, menyebut kehadiran Jokowi dalam dewan tersebut merupakan apresiasi atas keberhasilan menjaga stabilitas ekonomi, terutama saat pandemi Covid-19.
“Langkah Bloomberg ini menunjukkan kiprah Jokowi yang progresif di percaturan global. Beliau menjadi salah satu kepala negara yang mampu menstabilkan ekonomi di masa pandemi, sekaligus wajah negara berkembang dengan pertumbuhan yang konsisten,” ujarnya, Jumat (3/10).
Menurut Rossanto, keanggotaan Jokowi dalam dewan bergengsi itu membawa keuntungan strategis bagi Indonesia. Bloomberg, yang selama ini menjadi rujukan utama pelaku ekonomi dunia, dapat menjadi etalase baru untuk memperkenalkan potensi ekonomi Indonesia secara lebih luas.
“Bergabungnya Jokowi bisa memberikan nilai tambah, terutama dalam meningkatkan kepercayaan investor. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus positif di tengah ketidakpastian global akan menjadi daya tarik investasi asing,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa momentum ini harus ditindaklanjuti dengan langkah konkret. Pemerintah, menurutnya, perlu menawarkan peluang investasi yang jelas melalui blueprint sektor unggulan, seperti pertambangan, perkebunan, hingga industri berbasis sumber daya alam.
Rossanto juga mengingatkan bahwa peran pemerintah tetap krusial dalam menciptakan iklim investasi yang ramah dan kompetitif.
“Perizinan yang lebih sederhana, regulasi yang jelas, serta harmonisasi kebijakan pusat dan daerah menjadi kunci. Jika hal ini konsisten dilakukan, kehadiran Jokowi di Dewan Bloomberg akan memberi dampak besar terhadap arus investasi ke Indonesia,” pungkasnya. (*)



















