TOPMEDIA – Di tengah kerasnya kehidupan mahasiswa di Amerika Serikat, sosok Davon Arjunaidi muncul sebagai inspirasi. Lahir di Jakarta pada 2005, Davon kini berusia 21 tahun dan menempuh pendidikan di DePaul University, Chicago, Illinois, jurusan Finance. Namun, perjalanan menuju titik ini tidaklah mudah.
Setelah lulus dari SMA BPK Penabur, Davon sempat masuk Universitas Atma Jaya Jakarta jurusan kedokteran pada 2023.
Ia kemudian memilih keluar karena menilai jalur kedokteran membutuhkan waktu panjang hingga 15 tahun dan biaya miliaran rupiah. “Saya ingin jalur yang bisa memberi dampak lebih cepat,” ujarnya.
Dari Kedokteran ke Dunia Bisnis
Pilihan itu membawanya ke jalur bisnis. Pada 2024, Davon diterima di DePaul University, kampus dengan kurikulum keuangan yang dikenal kuat. Ia berhasil mendapatkan beasiswa penuh setelah mengajukan financial aid.
“Dekan sempat bertanya kenapa saya pantas dapat beasiswa ini. Saya jawab, kebanyakan mahasiswa hanya ingin lulus, tapi saya ingin membuat sesuatu yang spesial dan mengharumkan nama kampus serta bangsa,” tuturnya.
Baginya, pendidikan bukan sekadar mengejar gelar, melainkan wadah untuk menciptakan perubahan.
Indonesian-American Games 2026
Bukan hanya pendidikan fokusnya, tapi Davon juga menjalani kehidupan normal layaknya kebanyakan anak muda. Selain giat belajar, dirinya juga tetap melakukan hobi, yakni olahraga.
Berawal dari kecintaannya pada olahraga membuatnya melahirkan ide besar: Meskipun tinggal jauh di negeri orang, Davon memiliki mimpi yang berkaitan dengan olahraga yang ingin ia realisasikan.
Ya, Indonesian-American Games 2026 (IAG 2026) menjadi bentu realisasi Davon akan kecintaannya pada olahraga dan semangat anak muda Indonesia untuk mengumpulkan komunitasnya di negeri Paman Sam.

IAG 2926 menjadi bentuk ide, gagasan, dan perjuangan Davon untuk memberi ruang dan menunjukkan bahwa anak-anak muda Indonesia memiliki kemampuan dan prestasi.
Ia mencontohkan sosok Daren, pemain basket berusia 18 tahun di Illinois yang kini menempati peringkat ke-16 nasional.
“Banyak atlet berdarah Indonesia di sini belum menentukan kewarganegaraan. Lewat IAG 2026, saya ingin mereka bangga dengan asalnya,” ungkapnya.
Ajang ini akan digelar pada 19–21 Juni 2026 di Chicago, Illinois, mempertandingkan delapan cabang olahraga, yakni basket, voli, lari, bulu tangkis, tenis, pickleball, mini soccer, dan catur.
Event ini terbuka bagi seluruh WNI di AS dengan dua kategori usia, yaitu junior (13–17 tahun) dan dewasa (18–35 tahun).
Saat ini, 12 negara bagian telah mengonfirmasi keikutsertaan dengan target 20 negara bagian dan 300–500 peserta.
“Belum pernah ada anak bangsa yang membuat multi-event sport untuk negaranya di luar negeri. Ini pertama kali dalam sejarah,” tegas Davon.

Untuk mewujudkan mimpinya, Davon menggandeng KJRI Chicago, Kedubes RI, serta federasi olahraga nasional seperti Perbasi, Pelti, dan IPF. Ia juga bekerja sama dengan 1.000 relawan di Indonesia dan Amerika.
Tantangan Hidup di Amerika
Seperti halnya kebanyakan mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di luar negeri, Davon pun merasakan tantangan hidup dan perbedaan budaya yang menjadi tantangan.
Meski tampak berprestasi, Davon mengaku kehidupan di Amerika penuh tantangan. Harga makanan yang mahal membuat banyak mahasiswa memilih makanan cepat saji. Suhu ekstrem dan persaingan kerja yang ketat juga menjadi tekanan mental.
“Di sini hidup jauh lebih keras. Persaingan kerja luar biasa, kriminalitas tinggi, senjata legal. Tapi saya percaya mimpi besar harus diperjuangkan,” ujarnya.
Pesan untuk Anak Muda Indonesia
Sebagai salah satu dari ribuan anak bangsa yang memiliki kesempatan menimba ilmu di luar negeri, Davon ingin membagikan motivasinya bagi anak-anak muda Indonesia lainnya. Davon berpesan agar generasi muda Indonesia tidak takut bermimpi besar.
“Jangan takut bermimpi tinggi. Orang miskin, yang tak punya privilage pun bisa berhasil kalau punya tekad. Jangan berhenti di zona nyaman,” katanya.
Ia berharap langkahnya bisa menginspirasi anak muda untuk berani melangkah, meski penuh risiko.
“Kebanyakan orang berpikir ke luar negeri harus paling pintar. Padahal yang penting tekad dan kerja keras,” ujarnya.
Ke depan, Davon masih menyimpang ambisi dan cita-cita. Dirinya ingin dikenal sebagai sosok extraordinary yang membawa nama Indonesia ke panggung dunia.
“Saya ingin dikenal bukan karena saya kuliah di luar negeri, tapi karena saya membuat sejarah bagi bangsa,” tutupnya.
Melalui Indonesian-American Games 2026, Davon Arjunaidi membuktikan bahwa semangat nasionalisme tidak mengenal batas geografis.
Dari Chicago, ia menyalakan api kebanggaan Indonesia di mata dunia, sebuah langkah nyata dari anak muda yang berani bermimpi besar dan bertindak untuk mewujudkannya. “Dari mimpi lahir prestasi. Dari tekad, tumbuh kebanggaan bangsa,” pungkasnya. (*)



















