Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
FAMILY BUSINESSES

Blind Spot Hukum dalam Bisnis Keluarga (7): Harga dari Sebuah Kelalaian

×

Blind Spot Hukum dalam Bisnis Keluarga (7): Harga dari Sebuah Kelalaian

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi fambus story. (Foto: AI generated by Gemini)
toplegal

TIDAK ada ledakan besar di akhir cerita ini. Tidak ada gugatan terbuka, tidak ada sidang panjang yang menguras emosi. Yang tersisa justru kelelahan dan kesadaran bahwa sebagian kerusakan tidak pernah bisa benar-benar diperbaiki.

Postnup akhirnya sah. Dokumennya rapi, ditandatangani dan tersimpan aman. Secara hukum, masa depan sudah lebih terlindungi. Tapi luka yang terlanjur muncul tidak serta-merta menghilang. Kepercayaan yang sempat goyah membutuhkan waktu untuk pulih, jika memang bisa.

HALAL BERKAH

Di kantor, bisnis keluarga perlahan menemukan ritmenya kembali. Beberapa mitra kembali percaya. Namun, sebagian tetap menjaga jarak.

Papa mulai menyerahkan lebih banyak keputusan pada profesional. Mama tidak lagi banyak bicara, tapi doanya semakin panjang. Kini, semua orang berjalan lebih hati-hati. Seolah satu langkah keliru bisa mengulang api yang sama.

Baca Juga:  Drama Tes DNA Hancurkan Bisnis Keluarga (2): Tuntutan di Meja Hijau

Suatu sore, aku duduk sendirian di ruang kerja yang dulu selalu terasa aman. Aku membuka kembali dokumen-dokumen lama kontrak, laporan, dan notulen rapat. Di antara tumpukan itu, aku menemukan undangan pernikahanku sendiri. Kertasnya sudah mulai menguning, tapi senyum di foto itu masih sama.

Saat itu aku sadar bahwa tidak ada yang salah dengan pernikahan kami. Yang keliru adalah asumsi kami. Kami mengira cinta bisa menggantikan struktur. Kami percaya niat baik cukup untuk menahan risiko. Kami lupa bahwa hukum tidak bekerja dengan perasaan, melainkan dengan kejelasan.

Papa pernah berkata pelan pada suatu malam. “Kalau dulu Papa lebih tegas soal perjanjian kawin, mungkin ceritanya akan berbeda.”

Baca Juga:  Blind Spot Hukum dalam Bisnis Keluarga (3): Perusahaan Terseret Urusan Perkawinan

Aku mengangguk. Tidak ada lagi penyesalan yang perlu diucapkan. Hanya pelajaran yang harus diterima.

Dalam bisnis keluarga, kelalaian kecil sering kali terasa sepele di awal. Tidak membuat perjanjian kawin. Tidak memisahkan peran. Tidak menyiapkan batas. Tapi kelalaian semacam itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk menagih harga.

Kini aku memahami satu hal dengan sangat jernih bahwa perjanjian kawin bukan tentang kecurigaan, bukan tentang pesimisme terhadap pernikahan. Ia adalah bentuk tanggung jawab kepada pasangan, kepada keluarga, dan kepada bisnis yang menanggung hidup banyak orang.

Harga dari sebuah kelalaian memang mahal. Bukan selalu berupa kerugian finansial, tapi ketegangan, rasa takut, dan kepercayaan yang sempat goyah. Namun jika ada satu hal yang masih bisa diselamatkan, itu adalah kesadaran.

Baca Juga:  Ketika Legalitas Mengalahkan Loyalitas (2): Peralihan Kepercayaan dari Anak Kandung ke Menantu

Dan, kesadaran itulah yang ingin kusimpan dan kubagikan agar nota merah yang kami abaikan tidak perlu dibaca oleh keluarga lain dengan cara yang sama. (*/habis)

TEMANISHA.COM