SEJAK kecil, aku, Brina, tumbuh di antara suara mesin kantor dan rapat yang tak pernah selesai. Bisnis keluarga Brajantara bukan sekadar perusahaan bagiku, tapi rumah kedua.
Papa membangunnya dari nol. Dimulai dari gudang kecil sampai menjadi perusahaan yang disegani. Aku melihat sendiri bagaimana Papa tidur di kantor, Mama menyiapkan makan untuk karyawan, dan kami, anak-anaknya, belajar bahwa bisnis ini adalah warisan darah.
Itulah sebabnya aku tidak pernah ragu ketika Papa memintaku bergabung setelah lulus kuliah. Tanpa banyak tanya, aku mulai dari bawah. Mengurus administrasi, menghadapi klien, menutup masalah operasional yang tak pernah terlihat di laporan keuangan. Aku bekerja lebih lama dari jam kantor, bahkan sering kali tanpa jabatan jelas.
“Yang penting kamu belajar dulu,” kata Papa waktu itu.
Aku mengangguk, percaya.
Bertahun-tahun berlalu. Aku tahu semua rahasia perusahaan, semua kelemahannya, semua peluangnya. Tapi setiap kali ada rapat penting, aku hanya duduk di pinggir. Yang bicara selalu Papa dan Breno, suami kakakku.
Suatu sore, setelah rapat direksi yang lagi-lagi tidak mencantumkan namaku, aku memberanikan diri bicara.
“Pa,” kataku pelan, “posisi aku di perusahaan ini sebenarnya apa?”
Papa menatapku sekilas, lalu kembali ke berkasnya. “Kamu kan anak Papa. Ngapain mikirin jabatan?”
Jawaban itu terdengar hangat, tapi terasa kosong.
Bram, kakakku, hanya diam. Mama sibuk merapikan meja, seolah pembicaraan itu tidak penting. Sedangkan Breno tersenyum tipis dari ujung meja. Senyum yang entah kenapa selalu membuatku tidak nyaman.
Beberapa hari kemudian, aku diminta membantu persiapan dokumen untuk bank. Saat itulah aku pertama kali melihat akta perusahaan terbaru. Aku pun membacanya perlahan, baris demi baris.
Namaku tidak ada.
Aku ulangi lagi. Tetap tidak ada.
Pemegang saham: Papa, Mama, dan… Breno.
Tanganku gemetar. Aku mendatangi Papa malam itu.
“Pa, aku lihat akta perusahaan. Namaku tidak tercantum sebagai pemegang saham.”
Papa menghela napas panjang. “Brina, jangan sensitif. Ini urusan teknis.”
“Teknis?” suaraku bergetar. “Aku kerja di sini belasan tahun, Pa. Tapi secara hukum, aku bukan siapa-siapa.”
Mama akhirnya ikut bicara, suaranya lembut tapi menekan. “Kamu kan anak perempuan, Brina. Tidak perlu repot urusan begitu.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari tamparan.
Breno menyambung dengan tertawa kecil. “Lagipula perusahaan butuh orang yang fokus penuh, bukan baper. Aku di sini profesional.”
Aku pun menatapnya tajam. “Profesional atau beruntung karena dipercaya?” sindirku.
Suasana langsung tegang. Papa lantas berdiri. “Cukup! Jangan ribut soal hal kecil. Keluarga jangan dibawa ke urusan perusahaan.”
Aku terdiam. Di situlah aku sadar bahwa di bisnis keluarga kami, keluarga dan perusahaan selalu dipisahkan, tapi hanya saat itu menguntungkan mereka.
Malam itu aku duduk sendirian di kamar menatap berkas-berkas perusahaan yang selama ini kuanggap masa depanku. Secara hukum, aku tidak punya hak apa pun. Tidak atas saham, tidak atas keputusan, bahkan tidak atas suara.
Aku anak kandung.
Aku bekerja.
Aku setia.
Tapi aku bukan penerus atau pewaris.
Dan untuk pertama kalinya, aku bertanya pada diriku sendiri: “Apakah bisnis keluarga ini benar-benar tentang darah, atau hanya tentang siapa yang memegang akta? (*/bersambung)



















