TOPMEDIA – Harga minyak mentah dunia kembali mengalami pelemahan pada awal pekan ini. Penurunan terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan rencana kenaikan tarif impor global hingga 15%.
Kebijakan ini menimbulkan ketidakpastian baru bagi pertumbuhan ekonomi dunia dan konsumsi energi, sehingga memicu koreksi harga minyak.
Mengutip Reuters, Senin (23/2/2026), harga minyak mentah Brent berjangka turun 45 sen atau 0,63% menjadi USD 71,31 per barel pada pukul 23.15 GMT (06.15 WIB).
Sementara itu, harga minyak mentah AS (WTI) berjangka ikut melemah 50 sen atau 0,75%, berada di level USD 65,98 per barel.
Kebijakan tarif ini muncul setelah Mahkamah Agung AS memutuskan bahwa aturan tarif timbal balik yang sebelumnya diberlakukan Trump dinyatakan ilegal.
Namun, Trump dengan cepat menetapkan tarif sementara sebesar 15% untuk seluruh impor AS, angka maksimum yang diizinkan berdasarkan hukum perdagangan.
Sehari sebelumnya, Trump juga mengumumkan tarif bea masuk baru sebesar 10% untuk semua barang impor yang dijadwalkan berlaku mulai 24 Februari.
Belum jelas apakah kenaikan menjadi 15% akan berlaku pada waktu yang sama. Kebijakan ini didasarkan pada Pasal 122 Undang-Undang Perdagangan AS 1974, yang memungkinkan penerapan tarif sementara selama lima bulan sebelum membutuhkan persetujuan Kongres.
Menurut analis energi dari Energy Aspects, Sarah Emerson, kebijakan tarif ini menambah ketidakpastian pasar.
“Investor kini menghadapi dilema antara risiko geopolitik yang mendorong harga naik dan kebijakan perdagangan yang justru menekan permintaan,” ujarnya.
Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak lebih dari 5% pekan lalu akibat meningkatnya ketegangan militer antara AS dan Iran.
Lonjakan tersebut mendorong harga Brent dan WTI ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Namun, pengumuman tarif baru dari Trump kini mengimbangi sentimen positif tersebut dan kembali menekan harga.
Pelemahan harga minyak dunia menunjukkan betapa sensitifnya pasar energi terhadap kebijakan perdagangan dan geopolitik.
Ketidakpastian akibat tarif impor global yang diumumkan Trump berpotensi menekan permintaan bahan bakar, meski sebelumnya harga sempat terdorong oleh konflik dengan Iran.
Para pelaku pasar kini menunggu kepastian implementasi tarif serta langkah lanjutan Kongres AS dalam merespons kebijakan kontroversial ini. (*)



















