TOPMEDIA – Ekspor kakao Indonesia mencapai 348 ribu ton dengan nilai USD 2,65 miliar atau sekitar Rp 44,6 triliun (kurs Rp 16.832).
Menurut Kementerian Pertanian (Kementan), angka ini diproyeksikan terus meningkat seiring kenaikan produksi kakao domestik pada 2026, yang mencapai 635 ribu ton dari luas areal 1,38 juta hektare.
Data Statistik Perkebunan menunjukkan produksi kakao sempat turun dari 617 ribu ton pada 2024 menjadi 616 ribu ton pada 2025.
Namun, tahun 2026 menjadi momentum kebangkitan dengan proyeksi kenaikan produksi. Kondisi ini penting di tengah penguatan harga kakao global dan meningkatnya permintaan pasar internasional.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa kebijakan pemerintah diarahkan pada peningkatan produktivitas sekaligus percepatan hilirisasi.
“Kita tidak boleh hanya mengekspor bahan mentah. Hilirisasi harus diperkuat agar nilai tambah dinikmati di dalam negeri,” ujarnya, Sabtu (14/2/2026).
Sebanyak 99% perkebunan kakao nasional dikelola oleh rakyat dengan kontribusi produksi lebih dari 616 ribu ton.
Ada sekitar 1,5 juta kepala keluarga pekebun yang menggantungkan hidup pada komoditas ini.
Sulawesi menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi lebih dari 60% atau sekitar 378 ribu ton, disusul Sumatera dengan 164 ribu ton, termasuk Lampung dan Sumatera Utara sebagai daerah penghasil utama.
Pelaksana Tugas Dirjen Perkebunan, Abdul Roni Angkat, menilai tren harga kakao global menjadi peluang besar bagi petani.
“Harga kakao domestik mengikuti tren global yang menguat signifikan. Ini momentum untuk meningkatkan pendapatan pekebun. Karena itu, kualitas fermentasi harus ditingkatkan agar harga di tingkat petani lebih optimal,” jelasnya.
Ia menambahkan, hilirisasi menjadi strategi penting. “Dengan perbaikan produktivitas dan kualitas, Indonesia tidak hanya menjadi produsen, tetapi juga pemain penting dalam rantai pasok kakao olahan dunia,” tegas Abdul Roni.
Kebangkitan kakao nasional melalui peningkatan produktivitas dan hilirisasi diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia di pasar global. (*)



















