Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
LIFESTYLE

Terlalu Aktif Bersosial Media Picu Remaja Rentan Cemas dan Hilang Percaya Diri

×

Terlalu Aktif Bersosial Media Picu Remaja Rentan Cemas dan Hilang Percaya Diri

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi scroll media sosial. (Foto: Pinterest)
toplegal

TOPMEDIA – Di balik riuh rendah lini masa yang penuh warna, tersimpan kerentanan yang nyata bagi kesehatan mental generasi muda.
Aktivitas menggulirkan layar (scrolling) yang tampak sederhana, jika dilakukan secara berlebihan, kini menjadi pintu masuk bagi kecemasan dan merosotnya rasa percaya diri pada remaja.

Fenomena ini menjadi perhatian serius para ahli kesehatan mental. Psikolog Klinis Dewasa lulusan Universitas Indonesia, Teresa Indira Andani, S.Psi., M.Psi., mengingatkan bahwa paparan konten digital yang tidak terkelola dengan baik memicu rentetan dampak psikologis, mulai dari perbandingan sosial hingga gangguan ritme biologis.

HALAL BERKAH

Masa remaja adalah fase krusial pencarian identitas. Dalam fase ini, kecenderungan untuk membandingkan diri dengan orang lain menjadi sangat tinggi. Masalahnya, dunia digital sering kali hanya menyuguhkan “panggung depan” yang penuh polesan.

Baca Juga:  8 Tren Viral Media Sosial Terbaru dan Cara Memanfaatkannya

“Remaja bisa merasa tidak cukup menarik, tidak cukup populer, atau tidak cukup berhasil karena melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna di media sosial,” ujar Teresa dikutip dari Antara.

Menurut psikolog yang akrab disapa Tesya ini, remaja sering kali belum memiliki kemampuan kognitif yang matang untuk memilah antara realitas objektif dan representasi digital.
Akibatnya, standar kesuksesan dan kecantikan menjadi semu. Ketika validasi diri hanya disandarkan pada jumlah tanda suka (likes) dan kolom komentar, harga diri seseorang menjadi sangat rapuh karena bergantung sepenuhnya pada faktor eksternal.

“Jika validasi terlalu bergantung pada respons orang lain, rasa percaya diri itu tidak lagi tumbuh dari dalam, tetapi dari persepsi orang lain,” tuturnya.

Baca Juga:  Purana & Fuguku Pukau Kuala Lumpur, Fashion Indonesia Makin Bersinar

Selain masalah harga diri, penggunaan media sosial yang intens erat kaitannya dengan munculnya fenomena Fear of Missing Out (FOMO).
Ini adalah kecemasan akut ketika seseorang merasa tertinggal dari informasi atau tren yang sedang berkembang di lingkaran sosialnya. Ketakutan untuk tidak eksis (FOMO) ini membuat gawai sulit dilepaskan dari genggaman.

Dampak turunannya merembet ke ranah fisik, yakni gangguan tidur. Kebiasaan menggunakan gawai hingga larut malam tidak hanya mengurangi durasi istirahat, tetapi juga menurunkan kualitas tidur akibat paparan cahaya biru (blue light) dan stimulasi otak yang berlebihan sebelum tidur. Dampaknya nyata: konsentrasi menurun dan emosi menjadi tidak stabil pada keesokan harinya.

Meski demikian, teknologi digital tidak serta-merta menjadi antagonis tunggal. Media sosial tetap memiliki sisi terang sebagai ruang belajar, wadah komunitas, dan saluran kreativitas bagi remaja.

Baca Juga:  Proses Hukum Pemanggilan Lita Gading Berjalan, Ahmad Dhani Bicara Musik

Teresa menekankan bahwa titik masalahnya bukan pada platformnya, melainkan pada keseimbangan penggunaannya. Di sinilah peran orangtua dan lingkungan pendidikan menjadi jangkar. Pendampingan orangtua bukan lagi soal melarang total, melainkan membantu remaja membangun literasi digital agar mereka mampu menggunakan media sosial secara sehat dan proporsional.

Pada akhirnya, di tengah kepungan algoritma, tantangan terbesar bagi remaja saat ini adalah belajar untuk tetap merasa “cukup” tanpa harus selalu menatap layar. (*)

TEMANISHA.COM