Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
ECONOMY & FINANCE

Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen Bukan Isapan Jempol, Investasi Triwulan I 2026 Tembus Rp 497 Triliun

×

Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen Bukan Isapan Jempol, Investasi Triwulan I 2026 Tembus Rp 497 Triliun

Sebarkan artikel ini
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM yang juga Kepala BPI Danantara, Rosan Roeslani. (Foto: istimewa)
toplegal

TOPMEDIA, JAKARTA – Pemerintah optimistis target pertumbuhan ekonomi 8 persen sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 berada di jalur yang tepat (on track).

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, memproyeksikan realisasi investasi pada triwulan I 2026 bakal menyentuh angka fantastis yakni Rp 497 triliun. Angka ini merepresentasikan pertumbuhan sebesar 7 persen secara tahunan (year-on-year).
“Insya Allah, target yang dicanangkan pemerintah pada triwulan pertama ini bisa kami capai. Capaian ini sejalan dengan apa yang kita targetkan di awal,” tegas Rosan dalam Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, Senin (13/4).

HALAL BERKAH

Bukan sekadar deretan angka di atas kertas, guyuran modal yang masuk ke tanah air ini membawa dampak langsung bagi masyarakat.

Baca Juga:  Harga Emas di Pegadaian Terus Melonjak, Kini Tembus Rp3,275 Juta per Gram

Rosan menyebut, realisasi investasi di tiga bulan pertama tahun ini diperkirakan mampu menyerap 627 ribu tenaga kerja baru. Angka serapan itu naik 5,5 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Tahun 2026 memang menjadi tahun krusial bagi kementerian yang kini membidangi hilirisasi tersebut.

Pasalnya, target investasi nasional tahun ini dipatok sebesar Rp 2.041,3 triliun. Angka ini menjadi fondasi utama untuk mengerek pertumbuhan ekonomi nasional menuju angka 8 persen.

Lantas, dari mana pundi-pundi triliunan rupiah itu berasal? Rosan mengungkapkan bahwa strategi hilirisasi masih menjadi magnet paling kuat bagi para investor.

“Hilirisasi masih memberikan kontribusi besar, kurang lebih 30 persen dari seluruh investasi yang masuk ke Indonesia,” jelasnya.

Baca Juga:  Harga Plastik Melonjak, Industri Nasional Tertekan Ketergantungan Impor

Secara sektoral, industri logam dasar masih merajai dengan perkiraan realisasi mencapai Rp 67 triliun. Disusul oleh sektor transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi sebesar Rp 54 triliun, serta sektor pertambangan yang mencatatkan angka Rp 51 triliun.

Secara geografis, aliran modal masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, namun daerah luar Jawa mulai menunjukkan taringnya. DKI Jakarta diprediksi memimpin dengan Rp 74 triliun, disusul Jawa Barat sebesar Rp 72 triliun.

Menariknya, Sulawesi Tengah merangsek ke posisi empat besar dengan proyeksi investasi Rp 34 triliun, membuktikan bahwa geliat industri di wilayah timur Indonesia terus memanas.

Meski kondisi dunia sedang tak menentu akibat ketegangan geopolitik, Rosan menilai Indonesia tetap menjadi safe haven atau tempat aman bagi para pemodal.

Baca Juga:  Bagaimana Nasib Insentif Kendaraan Listrik di 2026?

Kebijakan luar negeri yang terbuka membuat Indonesia diterima baik oleh negara-negara raksasa seperti Singapura, China, Jepang, Korea Selatan, hingga Amerika Serikat.

Bahkan, Rosan membocorkan adanya peningkatan minat yang signifikan dari kawasan Timur Tengah. “Para investor dari Timur Tengah berbicara secara intens kepada kami. Kami pun aktif menjemput bola bertemu para potensial investor tersebut,” ungkap mantan Dubes AS itu.

Stabilitas politik dan keamanan dalam negeri pasca-transisi kepemimpinan menjadi kunci utama. “Kami mencoba selalu mengurangi faktor ketidakpastian. Ini berdampak positif terhadap minat investasi yang tetap tinggi,” pungkasnya. (*)

TEMANISHA.COM