Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
TOP NEWS

Surplus Jagung, Indonesia Siap Ekspor

×

Surplus Jagung, Indonesia Siap Ekspor

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi tanaman jagung. (Foto: Istimewa)
toplegal

TOPMEDIA – Produksi jagung Indonesia telah surplus. Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyampaikan bahwa pemerintah membuka peluang ekspor jagung tahun ini.

Seiring produksi jagung dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri dan melimpah ruah stok yang di miliki.

HALAL BERKAH

Berdasarkan pembaruan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14% sepanjang 2025 tercatat mencapai 16,11 juta ton.

Di sisi kebutuhan, konsumsi jagung pipilan kering (JPK) 14% selama 2025 berada di kisaran 15,64 juta ton. Dengan produksi yang melampaui kebutuhan, terdapat surplus sekitar 470 ribu ton.

Berdasar Neraca Pangan Nasional yang disusun Badan Pangan Nasional bersama kementerian terkait, ada stok carry over dari 2025 ke 2026 mencapai 4,5 juta ton.

Baca Juga:  Surplus Neraca Dagang RI Capai USD 4,34 Miliar di September 2025, Rekor 65 Bulan Tanpa Putus

Berdasar proyeksi neraca jumlah tersebut cukup untuk memenuhi hampir tiga bulan kebutuhan nasional, dengan kebutuhan bulanan sekitar 1,4 juta ton.

Dikatakan oleh Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa,  stok carry over ini menjadi penanda bahwa Indonesia pada 2025 telah berada dalam kondisi swasembada jagung.

Sepanjang tahun tanpa ketergantungan impor, kebutuhan jagung pakan dapat dipenuhi. Produksi petani dalam negeri menjadi tulang punggung pasokan kebutuhan dalam negeri.

“Dengan kondisi stok dan produksi seperti ini, pemerintah sepakat tidak perlu melakukan impor jagung pada 2026, baik untuk pakan, benih, maupun konsumsi rumah tangga,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (6/1/2026).

Lanjut Ketut, produksi jagung nasional sepanjang 2026 diperkirakan mencapai 18 juta ton. Produksi ini menjadi penopang utama pemenuhan kebutuhan dalam negeri sekaligus menjaga keseimbangan pasokan sepanjang tahun.

Baca Juga:  Pati Mencekam, Bupati Sudewo Diminta Warganya Mengundurkan Diri

Dengan proyeksi itu, stok jagung di akhir 2026 diperkirakan tetap berada di kisaran 4,5 juta ton. Angka ini menunjukkan kesinambungan antara produksi, kebutuhan, dan stok nasional. Posisi yang aman untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga.

“Penguatan produksi dalam negeri juga membuka peluang ekspor. Pada 2026, ekspor jagung diperkirakan dapat mencapai sekitar 52,9 ribu ton. Peluang ini hadir seiring meningkatnya kualitas dan kuantitas jagung nasional, tanpa mengganggu pemenuhan kebutuhan dalam negeri,” imbuhnya.

Ketut memastikan hasil panen petani terserap dengan baik dan tidak menumpuk di lapangan, sehingga pasokan tetap seimbang dan pasar berjalan wajar.

Pemerintah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) jagung melalui Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 216 Tahun 2025 sebagai tindak lanjut Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2025.

Baca Juga:  Resmi Tak Lagi Menkeu, Sri Mulyani Titip Pesan untuk Bangsa dan Minta Privasi

HPP jagung pipilan kering di tingkat petani ditetapkan Rp 5.500 per kilogram untuk kadar air 18-20 persen, sementara HPP Rp 6.400 per kilogram berlaku di gudang Bulog untuk kadar air maksimal 14 persen dan aflatoksin maksimal 50 part per billion (ppb).

Dari 15 November 2025, realisasi Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung telah mencapai 51,2 ribu ton dan disalurkan kepada 3.578 peternak ayam ras petelur di 17 provinsi. Ini demi memastikan pasokan pakan tetap terjaga. (*)

TEMANISHA.COM