Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
TOP NEWS

Surabaya Darurat Mikroplastik: Air Hujan di Semua Titik Pemantauan Tercemar

×

Surabaya Darurat Mikroplastik: Air Hujan di Semua Titik Pemantauan Tercemar

Sebarkan artikel ini
toplegal

TOPMEDIA — Kekhawatiran atas kualitas lingkungan di Kota Surabaya kembali mencuat setelah penelitian terbaru menemukan mikroplastik di air hujan pada seluruh titik pemantauan.

Temuan ini menguatkan dugaan bahwa polusi plastik telah menyusup hingga ke lapisan atmosfer dan turun kembali bersama hujan, menambah daftar ancaman kesehatan yang harus diwaspadai masyarakat kota besar.

HALAL BERKAH

Penelitian dilakukan oleh sejumlah komunitas dan lembaga lingkungan antara lain Jejak (Jaringan Gen Z Jatim Tolak Plastik Sekali Pakai), Growgreen, River Warrior, dan Ecoton.

Penelitian dilakukan di tujuh titik lokasi. Yakni di Darmawangsa, Ketintang, Gunung Anyar, Wonokromo, HR Muhammad, Tanjung Perak, dan Pakis Gelora.

Seluruhnya menunjukkan keberadaan mikroplastik. Konsentrasi tertinggi tercatat di Pakis Gelora, yakni 356 PM/L, disusul Tanjung Perak dengan 309 PM/L.

Baca Juga:  Penurunan Oksigen Terlarut Jadi Penyebab Ikan Bermunculan di Banyu Urip dan Kalimas

Dua titik itu merupakan kawasan dengan aktivitas manusia dan mobilitas tinggi, faktor yang dinilai turut memperparah pencemaran.

Dosen Prodi Sarjana Terapan Teknologi Laboratorium Medis FIK Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya, Vella Rohmayani, menjelaskan bahwa mikroplastik kini telah tersebar di berbagai komponen lingkungan.

Partikel berukuran sangat kecil itu mampu bergerak melalui udara, terangkat ke atmosfer, dan akhirnya turun kembali bersama presipitasi.

“Mikroplastik sudah ditemukan di laut, sungai, udara, bahkan di dalam tubuh organisme. Karena ukurannya kecil, ia mudah masuk ke rantai makanan,” ujarnya.

Menurut Vella, temuan di Surabaya memperlihatkan bahwa polusi plastik bukan lagi masalah terbatas di perairan, melainkan persoalan lintas ekosistem yang terus berkembang.

Baca Juga:  Surabaya Kriya Gallery Hadirkan Hampers Natal dan Tahun Baru Karya UMKM Lokal

Pemerintah Kota Surabaya mengakui bahwa kota metropolitan lebih rentan terhadap paparan mikroplastik.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya, Dedik Irianto, menyebut aktivitas padat penduduk dan penggunaan plastik yang masif menjadi faktor utama.

“Surabaya ini kota metropolitan. Memang sulit untuk benar-benar bebas dari mikroplastik,” katanya.

Ia menambahkan, gesekan ban kendaraan, pembakaran sampah plastik, serta penumpukan sampah yang terurai perlahan menjadi sumber pencemaran yang terbawa angin sebelum akhirnya turun bersama hujan.

Para peneliti mencatat bahwa pola aktivitas di sekitar titik pemantauan turut memengaruhi tingkat pencemaran.

Pembakaran sampah, kedekatan dengan pasar, hingga volume lalu lintas yang tinggi berpotensi meningkatkan pelepasan partikel plastik ke udara.

Baca Juga:  UMKM Masih Terkendala Aset dan Riwayat Kredit Untuk Akses Pembiayaan, OJK Siapkan Solusi PKA

Temuan tersebut dianggap penting karena mikroplastik dapat menimbulkan sejumlah risiko kesehatan, mulai dari peradangan, gangguan hormonal, hingga potensi masalah kehamilan.

Sebagai upaya mitigasi, Pemkot Surabaya menegaskan bahwa kebijakan pengurangan plastik terus diperkuat. Salah satunya melalui Perwali Nomor 16 Tahun 2022 yang melarang kantong plastik sekali pakai di pusat perbelanjaan dan lokasi tertentu.

Meski demikian, upaya pemerintah perlu diiringi kewaspadaan masyarakat. Vella mengimbau warga untuk mengurangi penggunaan plastik, menghindari pembakaran sampah, menggunakan masker filtrasi saat hujan, serta segera membersihkan tubuh setelah kehujanan untuk meminimalkan paparan mikroplastik. (*)

TEMANISHA.COM