TOPMEDIA – Bulan suci Ramadan bagi pesepak bola profesional bukan sekadar ritual ibadah, melainkan juga ujian ketahanan fisik dan mental. Di tengah jadwal padat BRI Super League 2026, Persebaya Surabaya di bawah komando pelatih Bernardo Tavares harus berpacu dengan waktu untuk menjaga kebugaran skuad Green Force melalui manajemen energi dan pemulihan cepat.
Tantangan yang dihadapi Persebaya tidak main-main. Tim asal Jawa Timur ini dijadwalkan melakoni empat pertandingan krusial hanya dalam rentang waktu dua pekan di bulan Ramadan ini.
Situasi ini diperumit dengan berubahnya ritme biologis pemain mulai dari pola makan hingga jam tidur yang harus selaras dengan jadwal latihan serta pertandingan malam hari.
Pelatih berkebangsaan Portugal, Bernardo Tavares, menyadari betul bahwa intensitas tinggi tanpa asupan nutrisi yang tepat di siang hari akan menjadi ancaman cedera pemain. Oleh karena itu, ia melakukan modifikasi besar-besaran pada program latihan tim.
“Kami harus mengontrol intensitas. Tanpa makan dan minum yang cukup di siang hari, latihan tidak bisa dipaksakan terlalu tinggi. Fokus kami adalah menjaga pemain agar tetap bugar dan terhindar dari cedera,” kata Tavares, dikutip dari laman resmi I-liga, Jumat (20/2/2026).
Bagi Tavares, kunci melewati fase krusial ini adalah rotasi pemain dan kedalaman skuad. Dengan jeda antarpertandingan yang hanya berkisar tiga hingga lima hari, kemampuan pelatih dalam mengatur napas setiap individu di lapangan akan menjadi penentu konsistensi hasil.
Di balik layar, tim medis Persebaya yang dipimpin dr. Ahmad Ridhoi bekerja ekstra keras. Mereka menerapkan skema khusus yang memantau setiap indikator fisik pemain secara harian, mulai dari kadar hidrasi, berat badan, hingga kualitas tidur.
“Manajemen energi adalah segalanya saat Ramadan. Kami mengatur pola makan saat sahur dan berbuka untuk memastikan kebutuhan kalori dan cairan tetap terpenuhi meski intensitas pertandingan tetap tinggi,” jelas dr. Ridhoi.
Fase 24 hingga 48 jam pertama pascapertandingan menjadi periode emas yang tidak boleh terlewatkan. Dalam rentang waktu tersebut, metode pemulihan menyeluruh mulai dari pendinginan statis, terapi fisik, hingga pengaturan ulang beban latihan. Semua diterapkan secara ketat agar tubuh pemain kembali siap tempur dalam waktu singkat.
Perjalanan berat Persebaya di bulan puasa ini akan dimulai saat bertandang ke markas Persijap Jepara di Stadion Gelora Bumi Kartini, Sabtu (21/2) malam. Pertandingan ini akan menjadi indikator awal sejauh mana adaptasi skuad Bajul Ijo terhadap atmosfer laga di bulan puasa.
Setelah dari Jepara, jadwal neraka telah menanti. Yakni menjamu PSM Makassar di Stadion GBT pada 25 Februari (kandang), menghadapi pemuncak klasemen Persib Bandung (kandang) pada 2 Maret, dan bertandang ke markas Borneo FC Samarinda (tandang) pada 7 Maret.
Saat ini, Persebaya tertahan di peringkat kelima klasemen sementara dengan koleksi 35 poin dari 21 laga. Mereka terpaut 12 angka dari Persib Bandung yang masih kokoh di puncak. Meraup poin maksimal di bulan Ramadan bukan sekadar target, melainkan kewajiban jika ingin tetap menjaga asa dalam persaingan perebutan gelar juara. (*)



















