TOPMEDIA – Pemerintah menargetkan hilirisasi sejumlah komoditas perkebunan mulai 2026, meliputi cokelat, tebu, kopi, hingga mete.
Langkah ini menjadi fokus baru setelah capaian swasembada beras dan jagung berhasil diraih pada 2025.
Hilirisasi diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk perkebunan sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan industri nasional.
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, menegaskan bahwa capaian swasembada tahun ini akan terus dipertahankan, sementara fokus baru diarahkan pada hilirisasi komoditas perkebunan.
“So far tercapai ya target 2025. Kita memang fokus swasembada, bagaimana tidak impor beras, jagung, dan gula konsumsi. Nah tahun 2026 yang sudah tercapai dipertahankan, tetapi menunya ditambah dengan hilirisasi komoditi perkebunan tebu, cokelat, kopi, dan mete,” ujarnya di Kementerian Pertanian, Rabu (31/12/2025).
Sudaryono menjelaskan, pemerintah menyiapkan dua program utama pada 2026, yakni hilirisasi perkebunan dan peningkatan produksi peternakan.
Untuk mendukung hilirisasi, pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp 9 triliun yang akan digunakan untuk peremajaan selama tiga tahun.
Komoditas perkebunan yang menjadi sasaran meliputi karet, kakao, kopi, teh, lada, tebu, kelapa, pala, tembakau, cengkeh, dan gambir.
Setelah peremajaan, hilirisasi akan digencarkan melalui pembangunan pabrik pengolahan dengan menggandeng BUMN dan pihak swasta.
“Hilirisasi perkebunan itu ada yang namanya peremajaan beberapa komoditas. Anggarannya Rp 9 koma sekian triliun terbagi dalam 3 tahun. Itu ada tebu, kopi, cokelat, pala, lada, dan gambir, total 11 komoditas,” jelasnya.
Selain hilirisasi, pemerintah juga akan meningkatkan produksi daging ayam, telur, dan susu untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Peningkatan dilakukan dengan membangun peternakan terintegrasi yang fokus pada pemenuhan pakan ternak.
“Termasuk bagaimana merevitalisasi peningkatan produksi sektor protein yaitu ayam, telur, dan susu. Khususnya untuk memenuhi kebutuhan MBG. Tahun depan diprediksi 80 juta orang akan dapat MBG, sehingga kebutuhan protein sangat besar,” terang Sudaryono.
Hilirisasi komoditas perkebunan menjadi agenda strategis pemerintah pada 2026 setelah capaian swasembada beras dan jagung di 2025.
Dengan dukungan anggaran Rp 9 triliun untuk peremajaan, pembangunan pabrik pengolahan, serta kolaborasi dengan BUMN dan swasta, pemerintah optimistis hilirisasi akan meningkatkan nilai tambah produk perkebunan.
Selain itu, peningkatan produksi protein melalui peternakan terintegrasi diharapkan mampu memenuhi kebutuhan program Makan Bergizi Gratis.
“Kami yakin hilirisasi dan peningkatan produksi peternakan akan menjadi fondasi kuat bagi ketahanan pangan dan industri nasional,” pungkas Sudaryono. (*)



















