TOPMEDIA – Industri makanan dan minuman (Food and Beverage/F&B) terus menjadi primadona bagi pelaku usaha di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah usaha penyediaan makanan dan minuman mencapai 4,85 juta unit pada 2023, dengan pendapatan hingga Rp 998,3 triliun.
Dari jumlah tersebut, lebih dari 2,7 juta unit berasal dari kedai, kafe, dan warung makan rumahan, menjadikannya sektor usaha yang paling banyak dibuka dan paling menyerap tenaga kerja.
Fenomena ini bukan sekadar tren, melainkan cerminan dari kebutuhan dasar masyarakat, kemudahan memulai usaha, dan daya tahan sektor F&B terhadap berbagai kondisi ekonomi.
ka
Menurut laporan DBS Wealth Feed (2025), ada lima alasan utama mengapa bisnis F&B selalu menarik untuk dimulai:
1.Merupakan Kebutuhan Primer
Makanan dan minuman adalah kebutuhan dasar manusia, sehingga permintaan selalu ada dan cenderung meningkat seiring pertumbuhan populasi.
2.Modal Awal Fleksibel
Banyak pelaku usaha memulai dari skala kecil seperti warung rumahan, food truck, atau booth minuman kekinian dengan modal mulai dari Rp6–10 juta.
3.Didukung Teknologi Digital
Platform pesan-antar, media sosial, dan sistem pembayaran digital mempermudah pemasaran dan distribusi produk F&B.
4.Mudah Beradaptasi dengan Tren
Tren kuliner seperti makanan sehat, plant-based food, dan minuman fungsional terus berkembang dan mendorong inovasi produk.
5.Terhubung dengan Banyak Industri
F&B bersinggungan langsung dengan sektor pertanian, logistik, kemasan, dan pariwisata, sehingga memiliki efek berganda terhadap ekonomi.
Prof. Triyonowati, guru besar bidang manajemen di STIESIA Surabaya ini mengatakan, sektor F&B cenderung stabil dan tahan terhadap krisis, oleh karenanya banyak dipilih untuk usaha.
“Sektor F&B memiliki nilai perusahaan yang stabil dan tahan terhadap krisis. Bahkan saat pandemi, permintaan makanan tetap tinggi karena sifatnya yang esensial. Ini menjadikan F&B sebagai sektor yang paling adaptif dan resilient,” jelasnya.
Profitabilitas sektor F&B sangat menarik bagi investor dan pelaku usaha pemula. Return on Equity (ROE) di sektor ini cenderung positif dan signifikan, terutama bagi usaha yang mampu mengelola rantai pasok dan branding dengan baik.
Dominasi sektor F&B dalam pembukaan usaha baru di Indonesia bukanlah kebetulan. Kombinasi antara kebutuhan dasar manusia, kemudahan memulai usaha, dukungan teknologi, dan fleksibilitas terhadap tren menjadikan F&B sebagai sektor paling prospektif.
Bagi pelaku usaha pemula, F&B menawarkan peluang besar dengan risiko yang relatif terukur. Dengan strategi yang tepat dan pemahaman pasar yang mendalam, bisnis makanan dan minuman bisa menjadi pintu masuk menuju kesuksesan jangka panjang. (*)