Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
ECONOMY & FINANCE

Rantai Pasok Global Terganggu Konflik Timur Tengah, Mendag RI Bidik Pasar Afrika dan ASEAN

×

Rantai Pasok Global Terganggu Konflik Timur Tengah, Mendag RI Bidik Pasar Afrika dan ASEAN

Sebarkan artikel ini
Menteri Perdagangan Budi Santoso. (Foto: Dok. Kemendag RI)
toplegal

TOPMEDIA – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi ancaman sekaligus peluang bagi perdagangan global. Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI menilai gangguan rantai pasok (global supply chain) tersebut justru sebagai celah lebar untuk melakukan ekspansi pasar.

Pemerintah kini tengah bersiap menambal kekosongan pasokan di negara-negara terdampak konflik Timur Tengah itu dengan produk-produk unggulan tanah air.

HALAL BERKAH

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menegaskan bahwa dinamika politik internasional selalu membawa efek domino pada peta perdagangan. Ketika negara pemasok utama terhambat oleh konflik, muncul ruang hampa di pasar internasional yang harus segera diisi.

“Krisis geopolitik itu biasanya akan mengubah peta perdagangan. Ketika global supply chain terganggu, akan ada pasar yang kosong karena pemasoknya terhambat. Di situlah peluang kita,” tegas Budi di Jakarta, Kamis (5/3).

Baca Juga:  Ketua DEN Peringatkan Investor Tidak Panik Meski Bursa Saham Anjlok

Strategi yang diusung Kemendag kali ini adalah diversifikasi radikal. Alih-alih terpaku pada pasar tradisional yang sedang bergejolak, pemerintah mulai memetakan negara-negara zona aman yang relatif kebal dari dampak konflik geopolitik.

Dalam radar Kemendag, kawasan Asia Tenggara (ASEAN) dan Afrika muncul sebagai kandidat kuat pasar alternatif. Kedua wilayah ini dinilai memiliki stabilitas yang lebih terjaga di tengah memanasnya suhu politik di belahan dunia lain.

Untuk merealisasikan hal tersebut, pemerintah akan menggencarkan skema business matching untuk mempertemukan eksportir lokal dengan buyer potensial dari Benua Hitam dan tetangga regional.

Meski optimistis, Budi mengakui bahwa pemerintah belum bisa mengunci angka pasti terkait potensi penurunan ekspor akibat krisis global tersebut.

Baca Juga:  Trump Umumkan Tarif Impor, Harga Minyak Dunia Terkoreksi

Namun, modal kuat sudah dikantongi. Sepanjang tahun 2025 lalu, program UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (UMKM BISA Ekspor) telah terbukti moncer.

Program ini sukses memfasilitasi 1.217 pelaku usaha dengan torehan nilai transaksi fantastis mencapai 134,87 juta dolar AS atau setara Rp 2,27 triliun.

“Kita harus lincah mencari pasar lain ketika pasar tertentu terganggu. Intinya, jangan sampai aktivitas ekspor kita mandek hanya karena satu pintu tertutup,” pungkasnya. (*)

TEMANISHA.COM