TOPMEDIA – Banyak orang bilang bahwa pilihan profesi merupakan panggilan jiwa, tak bisa dipaksakan dan tidak kebetulan begitu saja. Itu pula yang terjadi pada Rama Dhani S.H., MH., pengacara muda asal Surabaya ini.
Rama memilih hukum atas keinginannya sendiri. Hal itu karena dirinya suka dengan pekerjaan pengacara, bertemu banyak relasi, bertemu orang baru.
“Saya adalah tipikal orang yang suka berdebat, bekerja di lapangan dan saya suka memecahkan suatu masalah,” ujar laki-laki yang sudah 9 tahun menjadi pengacara ini.
Awalnya Rama bekerja di suatu perusahaan bagian office, namun ternyata bukan bagian dari passion-nya. Bekerja di dalam ruangan kurang disukainya, terlalu monoton dan kurang tantangan.
“Menyambung dari kesukaan saya, saya termasuk orang yang sangat suka bersosial dan saya melihat hukum ini kadang tidak membela orang yang lemah walaupun secara fakta orang tersebut tidak bersalah. Itu salah satu gairah saya memilih profesi pengacara. untuk memecahkan suatu masalah,” tutur laki-laki yang mendapat julukan Loman dari teman-temannya ini.
Bukan sekadar menjadi pengacara seperti kebanyakan orang yang menggeluti profesi tersebut, Rama juga ingin membawa perubahan dan edukasi tentang hukum. Menurutnya, itu menjadi bagian penting atas pilihan profesi yang dia pilih.
Sebagai pengacara, Rama juga menekankan pentingnya sisi kemanusiaan dalam praktik hukum.
“Hukum tidak bisa hanya dilihat dari teori. Fakta dan naluri kemanusiaan harus ikut dipertimbangkan,” tegasnya.
Rama menilai hukum di indonesia ini secara normatif sudah terstruktur dengan baik. Namun secara prakteknya, beberapa tidak sesuai dan bertentangan dengan kemanusiaan.
“Seharusnya hukum tidak serta merta melihat sisi teori atau normatifnya namun harus juga dilihat dari fakta dan naluri kemanusiaan,” tegasnya.
Hobi Otomotif yang Jadi Penyeimbang
Di balik kesibukannya sebagai pengacara muda, Rama memiliki cara unik untuk menyeimbangkan profesi dan hobinya.

Selama sembilan tahun berkarier di dunia hukum, ia tetap setia pada kecintaannya terhadap otomotif, sebuah passion yang sudah ia tekuni sejak duduk di bangku SMP.
Sejak kelas 1 SMP, Rama sudah jatuh cinta pada dunia otomotif. Ia mulai memodifikasi motor dan bahkan sempat masuk dalam beberapa majalah motor.
Baginya, naik kendaraan kesayangan adalah cara melepas penat. Rama kini tergabung dalam klub Harley Davidson Club Indonesia (HDCI).
“Rasanya beban hidup hilang ketika naik motor. Feel-nya rileks banget, bisa menghilangkan stres. Kalau naik moge, suaranya laki banget dan bodinya proporsional, bikin semangat,” kata Rama sambil tersenyum.
Hobi otomotif juga membawanya bertemu banyak orang dari berbagai kalangan. “Dengan hobi ini saya bisa bertemu siapa saja, dari A sampai Z. Itu mempererat relasi dan menambah ilmu. Sama seperti profesi pengacara, relasi adalah kunci,” jelasnya.
Touring dan Relasi
Rama aktif melakukan touring ke berbagai daerah, mulai dari Jawa hingga luar pulau. Ia pernah menjelajahi Bali, Lombok, Lampung, Pekanbaru, hingga Kalimantan Timur.

“Setiap perjalanan punya cerita suka dan duka. Momen seperti itu tidak bisa dilupakan,” ungkapnya.
Bagi Rama, profesi dan hobinya saling melengkapi. Dunia hukum menuntutnya untuk membangun jaringan dengan berbagai kalangan, sementara otomotif memberinya ruang untuk memperluas relasi secara natural.
“Menurut saya, hobi dan profesi ini sangat berdekatan. Pengacara juga butuh relasi dengan semua kalangan, dan otomotif memberi saya kesempatan itu,” tutur laki-laki yang juga pengusaha ini.
Dengan semangat muda, Rama “Loman” terus menyeimbangkan karier hukum dan kecintaannya pada otomotif.
Baginya, menjadi pengacara bukan hanya soal menegakkan hukum, tetapi juga tentang membangun hubungan, memperjuangkan keadilan, dan tetap menjaga ruang untuk passion pribadi. (*)



















