Scroll untuk baca artikel
TOP Legal Business PRO
TOP SAGU
TOP SAGU
TOP MEDIA
EDUTECH

PSIKOLOG: Dampak Libur Nataru bagi Anak, Waktu Penting Pulihkan Mental dan Tumbuhkan Potensi

×

PSIKOLOG: Dampak Libur Nataru bagi Anak, Waktu Penting Pulihkan Mental dan Tumbuhkan Potensi

Sebarkan artikel ini
toplegal

TOPMEDIA – Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) bukan sekadar jeda dari rutinitas sekolah. Bagi anak-anak, masa libur panjang ini justru menjadi fase penting untuk memulihkan kondisi mental sekaligus memperkaya pengalaman hidup yang akan berpengaruh pada tumbuh kembang mereka.

Hal tersebut disampaikan psikolog anak dan keluarga, Nur Ainy Fardana Nawangsari, Senin (29/12).

HALAL BERKAH

Ia menjelaskan bahwa masa liburan menjadi ruang yang dibutuhkan anak untuk menyeimbangkan kembali semua aspek kehidupannya setelah selama satu semester menjalani aktivitas akademik yang padat dan menuntut kemampuan kognitif, fisik, serta emosional.

“Yang sebenarnya dipulihkan ketika anak memasuki masa liburan adalah pengalaman dan kondisi mentalnya. Dari pengalaman baru itu, anak bisa melihat potensi dirinya dengan cara yang berbeda dan merasa lebih nyaman dengan lingkungannya,” kata dosen Psikologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini.

Baca Juga:  Okupansi Hotel Saat Libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026 Diproyeksi Capai 74 Persen

Ia menegaskan, pengalaman baru tidak selalu identik dengan liburan mahal atau bepergian jauh. Aktivitas sederhana di rumah pun dapat memberi dampak positif asalkan anak keluar dari rutinitas akademik yang biasa mereka jalani.

“Selama liburan, orang tua dapat mengajak anak terlibat dalam kegiatan yang selama ini sulit dilakukan karena padatnya jadwal sekolah. Mulai dari proyek kreatif di rumah, memasak bersama, hingga ikut mengenal aktivitas usaha keluarga. Kebersamaan seperti ini justru menjadi pengalaman baru yang bermakna bagi anak sesederhana apapun kegiatannya,” paparnya.

Namun, ia mengingatkan agar aktivitas liburan tidak dibingkai dengan target atau tuntutan berlebihan. Liburan seharusnya menjadi ruang bermain dan berekspresi, bukan perpanjangan tekanan akademik.

Baca Juga:  Pemerintah Siapkan Skema Transportasi dan Pengendalian Inflasi Jelang Libur Nataru 2025/2026

“Kalau liburan diisi dengan tuntutan, manfaatnya justru berkurang. Anak perlu ruang untuk mengenali dirinya dan mengeksplorasi potensi tanpa tekanan,” ujarnya.

Dalam hal ini, peran orang tua menjadi kunci. Setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda, sehingga pendampingan perlu dilakukan secara peka dan dialogis.

Orang tua disarankan melibatkan anak dalam menentukan kegiatan selama liburan. “Orang tua bisa bertanya, anak ingin melakukan apa selama libur. Kalau tidak bisa bepergian, anak tetap punya pilihan aktivitas yang mereka sukai di rumah,” tutur Nur Ainy.

Meski liburan sering dianggap sebagai masa ‘bebas’ berkegiatan, Nur Ainy mengingatkan bahwa pengawasan tetap diperlukan.

Orang tua diharapkan dapat memfasilitasi aktivitas yang mendorong kreativitas sekaligus menjaga kesehatan anak, baik secara fisik maupun mental.

Baca Juga:  Siapkan Tenaga Medis, RSUD Dr. Soetomo Surabaya Prediksi 10 Penyakit Terbanyak Ini selama Libur Nataru

“Pendampingan tetap penting agar liburan benar-benar memberi dampak positif bagi perkembangan anak,” pungkasnya. (*)

TEMANISHA.COM