TOPMEDIA – Presiden Prabowo Subianto menyoroti paradoks yang terjadi di Indonesia sebagai negara penghasil komoditas unggulan dunia.
Meski dikenal memiliki kopi dan cokelat berkualitas tinggi, Indonesia justru masih bergantung pada produk impor untuk konsumsi dalam negeri.
Hal itu disampaikan Prabowo saat berdiskusi dengan sejumlah jurnalis dan ekonom dalam forum bertajuk Presiden Prabowo Menjawab di kediaman pribadinya di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
“Kita punya kopi, cokelat terbaik, tetapi kita impor Starbucks, Nestlé, Nescafé. Kita punya cokelat terbaik, tetapi kita makan KitKat dan Cadbury,” sindir Prabowo.
Pernyataan tersebut menggambarkan ironi di tengah melimpahnya sumber daya alam Indonesia, yang belum sepenuhnya diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi.
Menjawab persoalan tersebut, Prabowo menegaskan bahwa pemerintahannya akan berfokus pada kebijakan hilirisasi dan industrialisasi komoditas strategis.
Menurut dia, langkah ini menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus meningkatkan daya saing nasional.
“Saya ingin hilirisasi. Itu satu-satunya jalan. Kita tidak boleh lagi ekspor bahan mentah. Kita harus olah menjadi produk turunan bernilai tinggi,” tegasnya.
Dalam konteks ini, Prabowo memperkenalkan konsep pohon industri yakni pemetaan menyeluruh terhadap rantai produksi suatu komoditas, mulai dari bahan mentah hingga produk akhir.
Konsep tersebut rencananya akan diterapkan pada berbagai sektor, mulai dari mineral dan logam hingga komoditas pertanian seperti kelapa, kopi, dan cokelat.
Soroti Potensi Kelapa hingga Bauksit
Presiden juga mencontohkan potensi besar komoditas kelapa yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
Menurutnya, produk turunan seperti virgin coconut oil (VCO) memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar global, bahkan dikenal memiliki manfaat kesehatan.
“Kelapa itu miracle crop. Tapi kita baru punya satu-dua pabrik. Selama ini kita ekspor kelapa gelondongan,” ungkapnya.
Selain itu, Prabowo turut menyoroti pengelolaan mineral strategis seperti bauksit.
Ia menilai Indonesia seharusnya mampu mengolah bauksit menjadi alumina hingga aluminium, yang kemudian bisa digunakan untuk industri manufaktur seperti otomotif.
“Kita punya bauksit, tapi tidak kita olah maksimal. Sementara negara lain yang tidak punya bahan baku justru bisa menghasilkan produk industri kelas dunia,” katanya.
Lebih jauh, Prabowo meyakini hilirisasi tidak hanya berdampak pada peningkatan nilai tambah ekonomi, tetapi juga membuka lapangan kerja berkualitas bagi generasi muda.
Ia menyebut pemerintah telah menyiapkan peta jalan pengembangan industri berbasis komoditas strategis, termasuk rencana pembangunan ratusan pabrik di berbagai sektor.
“Kita harus bangun ratusan pabrik. Itu yang kita sebut pohon industri. Kita sudah punya rencana untuk semua komoditas penting,” ujarnya.
Dengan langkah tersebut, pemerintah berharap Indonesia tidak lagi hanya menjadi eksportir bahan mentah, melainkan bertransformasi menjadi negara industri yang mampu mengolah kekayaan alamnya menjadi produk bernilai tinggi di pasar global. (*)



















