TOPMEDIA – Pertemuan para anggota Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) yang digelar di Guangzhou pekan ini memusatkan perhatian pada berbagai tantangan ekonomi digital yang semakin kompleks. Isu yang dibahas mencakup pesatnya penggunaan kecerdasan buatan, perkembangan perdagangan digital lintas negara, hingga meningkatnya perhatian terhadap keamanan di ruang siber.
Agenda ini merupakan bagian dari rangkaian APEC Senior Officials’ Meeting and Related Meetings pertama tahun ini. Dalam forum tersebut, para delegasi mendiskusikan cara merespons perubahan teknologi yang bergerak cepat, sembari menjaga keterbukaan pasar, memperkuat kepercayaan terhadap sistem digital, serta memastikan manfaat digitalisasi dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat.
Ketua Kelompok Pengarah Ekonomi Digital APEC, Ichwan Makmur Nasution, menegaskan pentingnya kehadiran kebijakan yang jelas dan dapat diandalkan untuk mendukung inovasi. Menurutnya, transformasi teknologi digital kini berlangsung sangat cepat dan telah memengaruhi perdagangan, produktivitas, hingga aktivitas sehari-hari.
Ia menilai, melalui pertukaran pengalaman dan peningkatan kerja sama antaranggota, setiap perekonomian dapat merumuskan langkah yang lebih efektif dalam menghadapi tantangan tersebut. Pendekatan kolektif ini diharapkan mampu membantu membangun masa depan digital kawasan Asia Pasifik yang lebih tangguh dan berorientasi jangka panjang.
Sejumlah diskusi dalam pertemuan ini menyoroti implementasi Peta Jalan Internet dan Ekonomi Digital APEC. Topik yang diangkat antara lain kebijakan pendukung perdagangan digital, upaya meningkatkan keterhubungan antar sistem, serta dorongan terhadap inovasi yang tetap memperhitungkan risiko dari proses transformasi digital.
Salah satu sesi dialog membahas munculnya model bisnis e-commerce baru, seperti perdagangan berbasis siaran langsung dan social commerce. Model ini dinilai membuka peluang bagi pelaku usaha kecil untuk menembus pasar internasional, meskipun juga memunculkan tantangan baru terkait perlindungan konsumen dan pengawasan pasar.
Diskusi lain berfokus pada percepatan pemanfaatan kecerdasan buatan. Para delegasi menekankan pentingnya ketahanan digital serta penguatan kapasitas AI melalui pengembangan keterampilan, pendidikan, dan peningkatan kesadaran publik agar tenaga kerja dan institusi siap menghadapi dampaknya.
Isu keselamatan anak di dunia digital turut menjadi perhatian, termasuk langkah kebijakan untuk mengantisipasi risiko konten berbahaya dan eksploitasi daring, tanpa mengurangi manfaat akses digital bagi pembelajaran dan kreativitas.
Selain itu, para anggota APEC juga saling berbagi pengalaman terkait pengukuran perdagangan digital. Data yang akurat dinilai semakin krusial untuk mendukung perumusan kebijakan, seiring meningkatnya kontribusi transaksi digital terhadap perekonomian.
Perwakilan Administrasi Ruang Siber China, Qi Xiaoxia, menyampaikan bahwa ekonomi digital kini menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi, inklusi sosial, dan pembangunan berkelanjutan. Ia menambahkan bahwa sektor ini juga menjadi pilar penting kerja sama APEC di tengah arus transformasi teknologi global.
Sebagai tuan rumah, China turut memaparkan rencana untuk memperkuat kolaborasi digital di kawasan, termasuk mengusulkan penyelenggaraan Pekan Digital APEC pada akhir 2026. Inisiatif tersebut bertujuan memperdalam kerja sama transformasi digital serta mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis data di kawasan Asia Pasifik. (*)



















