TOPMEDIA – Persebaya Surabaya memilih langkah strategis menatap putaran kedua Liga Super Indonesia (Indonesia Super League) 2025/2026. Manajemen tim berjuluk Green Force tersebut resmi menunjuk Sidiq Maulana Tualeka sebagai manajer baru menggantikan posisi yang ditinggalkan Yahya Alkatiri.
Penunjukan pria yang akrab disapa Alex Tualeka ini bukan sekadar rotasi jabatan biasa. Ini adalah simbol kembalinya identitas “orang dalam” yang memahami denyut nadi klub dari akar rumput hingga ke ruang ganti.
Bagi publik sepak bola Surabaya, nama Alex Tualeka sudah sangat akrab di telinga. Sebelum naik jabatan sebagai manajer tim, ia mengemban tugas sebagai Fans Relation Manager. Tugasnya selama ini adalah menjadi “penyambung lidah” antara manajemen klub dengan Bonek, pendukung setia Persebaya.
Kedekatan Alex dengan tribun membuat penunjukan ini disambut hangat, bahkan cenderung euforia di media sosial. Di tengah dinamika sepak bola modern yang sering kali terasa dingin dan transaksional, Alex dianggap sebagai figur yang paham betul apa yang diinginkan suporter, yakni transparansi, kerja keras, dan harga diri klub.
“Semoga bisa menjembatani keinginan Bonek ke manajemen secara profesional,” tulis salah satu akun pendukung di jagat maya, mencerminkan harapan besar akan harmonisasi internal yang lebih solid.
Alex tidak datang di waktu yang santai. Ia langsung dihadapkan pada ujian saat Persebaya harus melakoni laga krusial melawan PSIM Yogyakarta di Stadion Sultan Agung, Bantul, Minggu (25/1/2026) hari ini.
Laga ini bukan sekadar perebutan tiga poin, melainkan duel klasik penuh gengsi. Alex harus memastikan transisi manajerial berjalan mulus di bawah arahan pelatih anyar, Bernardo Tavares. Stabilitas internal menjadi harga mati jika Persebaya ingin tetap bersaing di papan atas klasemen putaran kedua.
Kepergian Yahya Alkatiri ke Persis Solo memang sempat meninggalkan lubang, namun manajemen Persebaya tampaknya ingin menutup celah tersebut dengan sosok yang tidak perlu lagi beradaptasi dengan budaya lokal Surabaya.
Dalam perspektif sepak bola Surabaya, posisi manajer memiliki peran krusial. Ia bukan sekadar pengurus administrasi, melainkan penjaga mentalitas tim. Alex, dengan latar belakangnya yang kuat di bidang relasi suporter diharapkan mampu menyuntikkan semangat “Wani” yang lebih otentik ke dalam tim.
Dukungan mengalir deras, namun tantangan di putaran kedua dipastikan lebih terjal. Persaingan menuju tangga juara atau zona kontinental menuntut ketenangan manajerial. Kini, publik menunggu bagaimana Alex meramu komunikasi yang selama ini ia bangun di tribun menjadi kebijakan yang memenangkan tim di lapangan hijau.
Laga melawan PSIM sore ini akan menjadi lembar pertama dari buku baru yang ditulis Alex Tualeka. Apakah kedekatan emosional ini mampu dikonversi menjadi prestasi? Waktu dan peluit panjang wasit yang akan menjawabnya. (*)



















