TOPMEDIA – Untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, Danantara Indonesia melalui Holding BUMN Pangan, ID FOOD, memulai proyek groundbreaking hilirisasi industri ayam terintegrasi yang diproyeksikan menjadi tulang punggung pasokan protein hewani nasional.
Proyek ini merupakan fase pertama dari peta jalan (roadmap) hilirisasi perunggasan Indonesia yang dibangun di enam provinsi. Yaitu di Ngajum Kabupaten Malang (Jatim), Lampung Selatan (Lampung), Bone (Sulawesi Selatan), Penajam Paser (Kalimantan Timur), Gorontalo Utara (Gorontalo), dan Sumbawa (Nusa Tenggara Barat).
Direktur Utama ID FOOD, Ghimoyo, menegaskan bahwa pengembangan industri ayam terintegrasi ini memiliki peran strategis dalam menyukseskan program prioritas nasional, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG). Dengan target 82,9 juta penerima manfaat, ketersediaan pasokan daging ayam dan telur yang stabil menjadi harga mati.
“Fase pertama ini ada enam dari 30 lokasi rencana besar hilirisasi perunggasan Indonesia. Kami menargetkan produksi tambahan sebesar 1,5 juta ton daging ayam dan 1 juta ton telur,” ujar Ghimoyo di sela seremoni groundbreaking Proyek Hilirisasi Fase-I di Kecamatan Ngajum, Malang, Jumat (6/2/2026).
Selain itu, proyek ini diharapkan mampu mengurai benang kusut kemiskinan struktural dan menekan angka tengkes (stunting). Ghimoyo menambahkan, dampak ekonominya pun masif: penciptaan 1,46 juta lapangan kerja baru dan potensi peningkatan pendapatan peternak hingga Rp 81,5 triliun per tahun secara bruto.
Salah satu tantangan besar industri perunggasan nasional saat ini adalah konsentrasi produksi yang tidak merata. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menyebutkan bahwa saat ini 63 persen produksi daging dan telur ayam masih berpusat di Pulau Jawa.
“Proyek hilirisasi terintegrasi ini dibangun untuk mengurangi disparitas tersebut. Kita membangun sentra-sentra produksi baru di luar Jawa agar distribusi lebih efisien dan harga lebih terjangkau bagi masyarakat di daerah,” kata Agung.
Khusus di Kabupaten Malang, fasilitas yang dibangun akan difokuskan pada pembibitan Poultry Grand Parent Stock (GPS). Pada tahap awal, akan dibudidayakan 18.000 ekor ayam GPS yang didukung oleh pabrik pakan mandiri, fasilitas produksi vaksin dan obat-obatan hewan, serta Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) untuk menyerap hasil peternakan rakyat.
Proyek yang merupakan inisiasi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman ini melibatkan kolaborasi lintas sektor. Kementerian Pekerjaan Umum turun tangan dalam pembukaan akses jalan dan pembersihan lahan di Malang, sementara Danantara memberikan dukungan investasi.
Ghimoyo menekankan bahwa kehadiran BUMN dalam rantai pasok ini bertujuan untuk menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen sekaligus melindungi harga di tingkat peternak. Hilirisasi memastikan budi daya tetap berada di tangan peternak rakyat, namun dengan dukungan teknologi dan akses pasar yang lebih pasti.
“Dengan hilirisasi ini, kita harapkan pasokan stabil dan harga terjangkau. BUMN hadir sebagai penyangga agar ekosistem perunggasan kita lebih berkeadilan dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Dengan dimulainya proyek di enam provinsi ini, Indonesia sedang berupaya membangun benteng ketahanan pangan dari hulu ke hilir untuk memastikan protein hewani bukan lagi barang mewah, melainkan hak yang mudah diakses oleh seluruh rakyat hingga pelosok negeri. (*)



















