TOPMEDIA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memperkuat upaya mitigasi bencana dengan menggandeng perguruan tinggi untuk mendeteksi pohon-pohon yang berpotensi rawan tumbang.
Deteksi dilakukan menggunakan alat khusus yang mampu mengukur kekuatan dan kondisi struktur pohon, terutama di tengah meningkatnya intensitas cuaca ekstrem.
Langkah ini diambil menyusul sejumlah kejadian pohon tumbang akibat angin kencang yang melanda Kota Pahlawan dalam beberapa waktu terakhir.
Pemeriksaan dini dinilai penting untuk mencegah risiko yang dapat membahayakan keselamatan warga maupun mengganggu aktivitas publik.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya Dedik Irianto mengatakan, kerja sama dengan perguruan tinggi bertujuan menghadirkan pendekatan ilmiah dalam pengelolaan pohon kota. Tidak hanya DLH, sejumlah perangkat daerah turut dilibatkan dalam kolaborasi ini.
“Kami melakukan penelitian dan praktik lapangan bersama perguruan tinggi. Ada alat khusus untuk mengecek kekuatan pohon. Kegiatan ini juga melibatkan BPBD dan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan,” kata Dedik di Surabaya, Minggu (21/12).
Menurut Dedik, karakteristik pohon berbeda dengan bangunan yang memiliki usia struktur jelas sejak awal pembangunan.
Banyak pohon peneduh di Surabaya merupakan hasil penanaman puluhan tahun lalu, yang kini telah tumbuh besar dan memberikan manfaat ekologis signifikan.
“Sekarang kita menikmati kota yang sejuk karena pohon-pohonnya besar. Tapi perlu diingat, pohon-pohon itu ditanam puluhan tahun lalu. Seiring waktu, kondisinya juga menua,” ujarnya.
Ia menjelaskan, usia pohon yang semakin tua dapat meningkatkan kerawanan, terutama ketika dihadapkan pada kondisi cuaca ekstrem seperti hujan lebat disertai angin kencang. Beberapa kejadian pohon tumbang yang terjadi belakangan ini menjadi alarm penting bagi pemerintah kota untuk melakukan pemetaan risiko secara menyeluruh.
Karena itu, DLH berupaya mengidentifikasi pohon-pohon yang dinilai rentan agar dapat dilakukan penanganan lebih dini, baik melalui pemangkasan, perawatan khusus, maupun penebangan terkontrol jika diperlukan.
“Kita ingin tahu mana pohon yang sehat, mana yang mulai rentan, dan mana yang berisiko tinggi tumbang. Dengan begitu, penanganannya bisa lebih tepat dan terukur,” kata Dedik.
Selain pengujian teknis, Pemkot Surabaya juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Edukasi penggunaan alat pendeteksi tidak hanya diberikan kepada petugas DLH, tetapi juga kepada petugas lapangan dari perangkat daerah lain yang berperan dalam penanganan darurat.
“Kami kumpulkan petugas lapangan dari BPBD dan DPKP untuk diberikan edukasi. Mereka dilatih bagaimana cara menilai kerawanan pohon menggunakan alat tersebut,” ujarnya.
Uji coba alat telah dilakukan langsung di lapangan dengan membandingkan kondisi sejumlah pohon di beberapa titik kota. Meski demikian, Dedik menegaskan bahwa tahap ini masih bersifat awal.
“Saat ini masih uji coba sekaligus pelatihan penggunaan alat. Setelah itu, baru kami lakukan pengecekan secara lebih luas terhadap pohon-pohon di Surabaya,” katanya. (*)



















