TOPMEDIA – Ambisi Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk membawa produk lokal merambah pasar global bukan sekadar isapan jempol. Melalui Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker), Balai Pemuda Surabaya disulap menjadi kawah candradimuka bagi para pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) dalam ajang Coaching Clinic Export Program.
Selama dua hari pada 30–31 Maret 2026, puluhan pelaku usaha IKM digembleng habis-habisan. Targetnya agar IKM Surabaya tidak boleh hanya jago kandang, tapi harus mampu menembus etalase dunia.
Kepala Disperinaker Surabaya, Agus Hebi Djuniantoro, menegaskan bahwa program ini bukan sekadar pelatihan teknis. Ada misi besar di baliknya, yakni penguatan ekonomi kerakyatan dan pengentasan pengangguran di Kota Pahlawan.
“Kami fokus menyiapkan IKM yang sudah memiliki potensi agar benar-benar siap ekspor. Karena ketika industri tumbuh dan pasarnya meluas hingga luar negeri, otomatis kebutuhan tenaga kerja juga meningkat,” ujar Hebi di sela kegiatan, Senin (30/3).
Hebi optimistis, dengan mendorong IKM naik kelas menjadi eksportir, tantangan pengangguran perkotaan di Surabaya dapat ditekan secara signifikan melalui penyerapan tenaga kerja di sektor produksi.
Tak tanggung-tanggung, Pemkot Surabaya menggandeng para ahli untuk membekali para peserta. Mulai dari praktisi Export Center Surabaya, Kementerian Perdagangan, hingga pakar desain produk dan marketing dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Dengan pendampingan yang intensif, wajah IKM Surabaya diharapkan berubah. Bukan lagi sekadar usaha sampingan, melainkan motor penggerak ekspor yang disegani di kancah global.
Materi yang diberikan dirancang menyeluruh, tidak hanya menyentuh aspek teknis ekspor, tetapi juga fondasi bisnis dan strategi pengembangan usaha.
Dari Export Centre Surabaya, peserta dibekali pemahaman mulai dari pondasi bisnis dan strategi UMKM agar mampu menembus pasar ekspor, standardisasi produk, riset pasar dan analisis kompetitor, hingga pendekatan success by design.
“Selain itu, pelaku usaha juga dilatih menyusun marketing export toolkit, korespondensi ekspor, teknik presentasi melalui pitch deck dan elevator pitch, serta penguatan model bisnis melalui Business Model Canvas,” tuturnya.
Sementara itu, kata dia, pemateri dari Bea Cukai memberikan penjelasan terkait prosedur ekspor dan pemanfaatan berbagai fasilitas kepabeanan bagi UMKM. Adapun BSN menekankan pentingnya standardisasi dan kesesuaian produk agar mampu memenuhi persyaratan pasar internasional.
Tak hanya pembekalan teori, pelaku usaha juga dipersiapkan untuk terlibat langsung dalam proses business matching. Mereka akan dipertemukan dengan buyer dari berbagai negara, baik secara luring seperti Amerika Serikat, Brunei, dan Pakistan, maupun daring dari Oman, Hong Kong, dan Singapura.
“Dalam proses ini, kemampuan komunikasi, presentasi, serta penyusunan dokumen bisnis menjadi faktor penentu keberhasilan transaksi,” ujarnya. (*)



















