TOPMEDIA – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kian memanas tak membuat pemerintah berpangku tangan. Menghadapi dinamika global yang tak menentu, pemerintah tancap gas mengamankan stok energi nasional.
Strateginya dengan melakukan diversifikasi sumber pasokan dan mengunci kontrak impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) jangka panjang dengan negara-negara mitra strategis.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, langkah ini adalah bentuk antisipasi agar stok tak terganggu meski peta pasokan energi dunia sedang terguncang.
Selama ini, Indonesia memang masih sangat bergantung pada keran impor untuk memenuhi kebutuhan gas elpiji baik yang subsidi (elpiji melon) dan nonsubsidi.
Bahlil menjelaskan, selama ini, struktur impor LPG Indonesia cukup terkonsentrasi. Sebanyak 70-75 persen dipasok dari Amerika Serikat (AS), sementara 20 persen sisanya berasal dari Timur Tengah, dan sisanya dari negara lain seperti Australia.
Melihat situasi Timur Tengah yang fluktuatif saat ini, Bahlil menyebut pemerintah melakukan langkah cepat antisipatif. Porsi yang selama ini diambil dari Timur Tengah mulai dialihkan ke negara lain guna meminimalkan risiko gangguan distribusi.
“Dengan kondisi di Middle East sekarang, kita pecah lagi untuk ambil kontrak jangka panjang dengan Amerika dan beberapa negara lain. Akhir minggu ini saja, dua kargo dari Australia sudah masuk,” ungkap Bahlil usai sidang kabinet paripurna di Istana Merdeka, Jumat (13/3).
Tak hanya soal kontrak jangka panjang, pemerintah juga memastikan ketahanan stok dalam jangka pendek, terutama menghadapi lonjakan konsumsi menjelang dan sesudah Hari Raya Idul Fitri.
Jadwal kedatangan kargo gas pun sudah disusun secara presisi. Bahlil merinci, setelah dua kargo dari Australia tiba pekan ini, pasokan berikutnya akan menyusul secara bertahap yakni 2 kargo (28 Maret), 1 kargo tambahan (4 April), 1 kargo penguat stok puncak (8 April).
“Pemerintah selalu siaga. Kita pastikan kargo-kargo ini masuk tepat waktu untuk menjaga stabilitas pasar,” tegasnya.
Di tengah perjuangan mengamankan LPG, ada angin segar dari sektor bahan bakar minyak (BBM). Bahlil memastikan pasokan solar nasional saat ini berada dalam posisi aman terkendali.
Kabar terbaiknya, seluruh kebutuhan solar kini mampu dipenuhi dari produksi kilang dalam negeri. Pencapaian ini tak lepas dari mulai beroperasinya proyek strategis Refinery Development Master Plan (RDMP) di Kilang Balikpapan.
Dengan kapasitas produksi yang meningkat, ketergantungan pada solar impor perlahan mulai dipangkas hingga nol.
Senada dengan LPG, urusan minyak mentah juga sedang dibenahi. Saat ini, sekitar 20 persen kebutuhan minyak mentah Indonesia masih bersumber dari impor asal Timur Tengah.
Untuk mencegah efek domino jika konflik di kawasan tersebut meluas, pemerintah mulai menjajaki skema kerja sama jangka panjang dengan negara-negara di luar kawasan konflik.
Langkah preventif ini diharapkan menjadi benteng bagi ketahanan energi nasional, sehingga fluktuasi harga maupun kendala distribusi di level global tidak langsung menghantam daya beli masyarakat di tanah air. (*)



















